Sering saya dengar ungkapan atau update status dari twitter maupun facebook bahwa dalam hidup ini tidak ada yang sempurna kecuali Tuhan. Secara rasio itu mungkin benar walaupun ketidak sempurnaan itu sendiri adalah produk pikiran manusia yang cenderung menilai berbagai hal dari dua sisi: baik dan buruk, benar dan salah. Namun dari pemikiran semacam ini justru membantah dengan sendirinya bahwa Tuhan itu sempurna. Jika dalam hidup ini ada yang tidak sempurna maka artinya terdapat cacat atau ada kesalahan proses selama penciptaan. Siapa pencipta produk cacat itu? Dia yang Maha Sempurna? Continue reading ‘Segalanya Sempurna’
Archive for the 'Uncategorized' Category
Segalanya Sempurna
Saya pernah berjanji pada seseorang untuk membimbing dia agar menjadi lebih dewasa. Namun saya bingung kaena saya sendiri masih dalam perjalanan dan rasanya akan selamanya menjalani perjuangan menjadi lebih dewasa. Suatu nasehat atau pelajaran textbook akankah mampu tertanam dalam dirinya? Tidak juga karena kata-kata hanya akan membuat seseorang lebih pintar berbicara dan hanya menjadi alat untuk membentuk image dan pergaulan. Dihadapan kenyataan yang tidak terduga karakterlah yang lebih besar berperan sementara kata-kata bijak akan lenyap ditelan emosi sesaat. Continue reading ‘Pembentukan Mental dan Karakter Melalui Problem Solving’
Laporan Pertanggungjawaban
Tanggung jawab, bukan hanya tentang membayar atas kesalahan yang telah dilakukan. Ini tentang tanggung jawab terhadap hal-hal yang mendasar tapi sering tidak disadari dan mudah untuk dilupakan. Bukan suatu hal yang mau tidak mau harus ditanggung namun sesuatu yang dijalani karena kepedulian dan tenggang rasa terhadap hal lain. Jika aku kira aku orang yang bertanggung jawab maka sekarang aku harus lebih sadar diri bahwa ada level tanggung jawab yang lebih tinggi yang aku sering remehkan, bukan hanya misalnya bertanggung jawab ketika menghamili anak orang (ups!!) Continue reading ‘Laporan Pertanggungjawaban’
Dampak global warning
Hari Kemerdekaan…
Ngomong2 saya baru ingat kalau sekarang tgl. 17 agustus, hari kemerdekaan negaraku tercinta. Hmm… di hari kemerdekaan ini rasanya sama saja dengan hari biasanya. Seharian duduk di depan laptop, internetan sambil posting, belajar bahasa jepang (bahasa penjajah,hehehe), dengar musik playlist tidak satupun lagu Indonesia. Biasanya topik yang jadi tulisan dimana-mana adalah bagaimana memaknai kemerdekaan atau berita perayaan2nya.
Kemarin malam sih lihat orang2 masang bendera merah putih di rumah2 mereka. Hebat juga mengingat mereka masih hidup susah tapi bela2in beli bendera. Saya bertanya-tanya adakah desakan untuk melakukan hal ini? Sebab kalau di Bali merayakan nyepi orang2 tidak benar2 nyepi, begitulah yang saya lihat di lingkungan saya. Sepi di jalan tapi di rumah menyalakan tv menonton gosip dengan suara tv yang dikecilkan. Malah suka curi2 keluar supaya tidak ditangkap petugas yg entah siapa. Terlihatkan kalau ada desakan disini dan bukan kesadaran? Apa itu juga terjadi disini?
Well, rasa cinta terhadap tanah air tidak bisa ditunjukkan dengan buta. Masak saya harus dengar lagu2 indonesia yang super melo dan tidak penting bahkan egois banget lyriknya sementara tidak menarik, walaupun masih suka padi dan ten2five tapi ya cuma itu. Saya juga lebih suka budaya jepang yang disiplin dan kreatif. Jika jepang telah berubah dari seorang penjajah menjadi negara yang paling banyak membantu negara kita, sementara kita masih terbenam dalam nostalgia perang dan cerita kepahlawanan masa lalu, enggan bergerak meraih masa depan. Continue reading ‘Hari Kemerdekaan…’
Cinderela Story….
Kisah cinta antara dua orang yang berbeda nasib, antara seorang rakyat jelata dengan seorang pangeran atau putri raja, selalu menarik banyak penonton. Mulai dari dongeng seperti Cinderela kemudian drama asia seperti Meteor Garden dan drama-drama Korea lainnya dan juga menjadi tema banyak sinetron Indonesia (entah kenapa, menurut saya ceritanya sama saja).
Cerita seperti ini selalu berakhir dengan bersatunya dua sejoli yang menjadi tokoh utama dengan diakhiri dengan pernikahan yang happily ever after. Tapi kenapa cerita ini tidak dilanjutkan saja? Hidup mereka belum berakhir kan? Benarkah benar-benar happily ever after? Misalkan Cinderela yang akhirnya seorang putri, bagaimana dengan pangerannya yang akhirnya menjadi Raja dan harus sibuk mengurusi kerajaannya? Bisa jadi karena saking sibuknya Cinderela akan merasa kesepian dan mulai mencari selingan. Bagaimana setelah mereka memiliki anak? Cinderela asal mulanya adalah gadis yang lugu yang tentu akan mengajarkan tentang kebaikan yang lugu pada anaknya, tapi seorang Raja tentu ingin anaknya suatu saat bisa memimpin kerajaan sehingga harus diajarkan ilmu politik yang kalau terlalu lugu malah bisa jadi mangsa lawan-lawannya. Ditambah lagi kalau ternyata anaknya tumbuh jadi seorang pembangkang yang bikin repot ortunya. Atau mungkin lahir seorang Sidharta Gautama yang akhirnya melepaskan ke-pangeranan dan meninggalkan keluarganya untuk menjadi seorang Budha.
Begitu juga kita sekarang selalu berpikir akan ada suatu pemberhentian dimana hidup akan bahagia dan tidak berpikir kalau setelah itu masih banyak tantangan yang akan datang. Contohnya, ketika banyak orang berpikir untuk belajar keras untuk prestasi sehingga diterima bekerja di sebuah perusahaan. Apakah setelah diterima dan mendapat gaji yang besar setiap bulannya maka kita aman? Bukankah masih mungkin terjadi phk? Bagaimana dengan perusahaan tersebut, apakah bisa bertahan lama ketika persaingan sekarang akan semakin terbuka? Contoh lainnya ketika memilih pasangan hidup. Anak-anak muda maupun yang tua mungkin terlalu terpengaruh oleh dongeng semacam Cinderela. Kenapa banyak sekali terjadi perceraian dan kekerasan dalam rumah tangga? Sampai dimanakah pikiran berhenti? Tidak sampaikah memikirkan akibatnya pada anak-anak? Bagi yang berpikir kalau jadi kaya harta maka hidup akan bahagia coba pikir lagi. Menjadi kaya itu baik, tapi jika pikiran berhenti ketika kekayaan telah diperoleh, maka hidup setelah itu akan penuh kesia-siaan, bosan dan tidak ada lagi tujuan yang jelas. Coba lihat orang-orang yang tak pernah berhenti menghamburkan uang untuk berbelanja. Kira-kira kenapa selalu butuh menghamburkan uang walaupun tidak benar2 butuh sesuatu? Membunuh kebosanankah? Tak ada lagikah yang dapat dilakukan?
Jangan menghentikan pikiran pada satu tempat. “Preoccupied with a single leaf, you won’t see the tree. Preoccupied with a single tree, you’ll miss the entire forest.” Gitu katanya Takuan Soho.
Nb: Takuan Soho adalah pendeta Zen yang menyelamatkan Shinmen Takezo dan memberinya nama Miyamoto Musashi
Test Empati Kamu!!
Ketika tiga orang pelamar kerja bersiap-siap untuk di-interview, petugas yang mengurusi mereka yang prospektif menerapkan sebuah tes guna menentukan siapa yang terbaik di antara mereka dalam menyelami pikiran orang lain. Dengan menempatkan tiga kursi membentuk satu barisan memanjang, satu kursi di belakang kursi yang lain, dia menunjuk pada lima kotak tertutup dan menjelaskan bahwa masing-masing kotak mengandung sebuah topi, dengan perincian tiga topi warna hijau dan dua topi warna putih. Selanjutnya, dia memindahkan secara acak tiga topi dari kotak-kotak mereka dan menempatkan satu topi pada masing-masing tempat duduk para pelamar sehingga tak seorang pun yang dapat melihat topi di atas kepala mereka. Pelamar yang duduk paling belakang melihat topi-topi di kursi kedua pelamar kerja yang duduk di depannya. Pelamar yang duduk di tengah hanya melihat topi di kursi pelamar yang di duduk di depannya. Orang ketiga sama sekali tidak dapat melihat topi yang mana pun. Para pelamar tidak diizinkan untuk menoleh dan harus memandang lurus ke depan sepanjang waktu.
Sang petugas menjelaskan bahwa dia akan menerima lamaran kerja dari orang pertama yang dengan tepat menjelaskan warna topinya. Semua pelamar itu terdiam selama kira-kira lima menit. Kemudian pelamar yang duduk paling depan, yang tidak dapat melihat topi mana pun, mengatakan, “saya memakai sebuah topi berwarna hijau.”
“Selamat,” sang petugas menjawab. “Anda diterima bekerja.”
Bagaimana caranya orang yang duduk dikursi paling depan dapat memecahkan masalah ini? Berpikirlah secara empati saat anda menjelaskan tentang apa yang sedang dipikirkan oleh masing-masing pelamar kerja tersebut.
Diambil dari buku “Why Didn’t I Think of That” karya Charles W. McCoy, Jr.
Manusia Pemberani
Keputusan mereka dipandu oleh nilai-nilai dan keyakinannya, bukan didikte oleh pandangan masyarakat yang acapkali sesat. Mereka bukanlah orang-orang yang tidak memiliki rasa takut, tetapi takut terhadap hal yang seharusnya, pada saat yang tepat, dengan cara yang benar.
*Seorang pemberani tidak takut dicibir dan dicemoohkan orang, ia lebih takut untuk tidak bertindak sesuai dengan hati nurani dan keyakinannya.
*Seorang pemberani, sekalipun mungkin disukai orang, tidak takut ditinggalkan banyak orang, ia lebih takut tidak mengembangkan potensi, bakat-bakat unik dan talenta yang dipercayakan Tuhan kepadanya.
*Seorang pemberani tidak takut kepada atasan (termasuk tentara, penguasa dan pemerintah), ia lebih takut melanggar prinsip-prinsip,hukum-hukum moral, dan nilai-nilai etis yang dipercayainya
*Seorang pemberani tidak takut menghadapi berbagai kemungkinan masa depan, ia lebih takut tidak berbuat yang terbaik hari ini.
*Seorang pemberani tidak takut bekerja keras dan menderita, ia lebih takut menjadi benalu dan parasit bagi masyarakatnya.
*Seorang pemberani tidak takut kehilangan gaji besar, ia lebih takut tidak mampu mengangkat derajat kehidupan orang-orang disekitarnya.
*Seorang pemberani tidak takut di-PHK atau di drop-out dari pendidikan formal, ia lebih takut untuk memperbudak diri atau tidak belajar dari sekolah kehidupan.
Ini dikutip dari bukunya Andrias Harefa yang berjudul “Berwirausaha dari Nol.” Dalam beberapa hal saya bukan seorang manusia pemberani, tapi saya sudah berhasil mengatasi berbagai ketakutan yang saya sadari dapat menghambat perkembangan saya, namun masih banyak ketakutan lain yang belum dapat diatasi. Ini akan butuh waktu dan usaha yang keras untuk mengenali dan mengatasinya.


Recent Comments