Saya pernah berjanji pada seseorang untuk membimbing dia agar menjadi lebih dewasa. Namun saya bingung kaena saya sendiri masih dalam perjalanan dan rasanya akan selamanya menjalani perjuangan menjadi lebih dewasa. Suatu nasehat atau pelajaran textbook akankah mampu tertanam dalam dirinya? Tidak juga karena kata-kata hanya akan membuat seseorang lebih pintar berbicara dan hanya menjadi alat untuk membentuk image dan pergaulan. Dihadapan kenyataan yang tidak terduga karakterlah yang lebih besar berperan sementara kata-kata bijak akan lenyap ditelan emosi sesaat.
Membaca buku memang bisa menjadi tempat referensi untuk bersikap juga dengan berdiskusi dengan orang lain. Namun untuk mengaplikasikan ilmu tersebut dibutuhkan latihan terus menerus dalam menghadapi persoalan-persoalan. Oleh karena itu memberikan masalah untuk dipecahkan jauh lebih baik daripada jawaban yang hanya akan menjadi hapalan.
Masalah yang terjadi seharusnya jadi tantangan dan jika seseorang lari darinya dengan berbohong dan hidup dalam lingkar kepalsuan jangan harap dia akan menjadi dewasa. Masalah tidak akan terselesaikan hanya ditutupi dengan akal bulus. Masalah yang diberikan apakah akan membentukmu menjadi dewasa atau membuatmu makin terpuruk atau mungkin tidak akan membawamu kemana-mana itu tergantung pada masing-masing orang untuk menyikapinya: Hadapi dengan berani, lari dengan kebohongan ataukah sibuk dengan menyalahkan orang lain itu adalah pilihan.
Ujian Formal Sebagai Latihan Awal
Selama masa sarjana aku juga suka mengeluh terutama ketika ujian semester. Sering aku hanya belajar seadanya lalu menyerah pada ketidakpahaman, menyalahkan dosen yang tidak becus menjelaskan. Aku rasa ujian sama sekali tidak ada manfaatnya.
Setelah melanjutkan ke program magister dengan misi memperbaiki diri aku belajar untuk serius menghadapi ujian. Walaupun alasan-alasan selama sarjana masih ada namun lebih terlihat sebagai tantangan sekarang. Tantangan itu dapat berupa melatih konsentrasi ketika mendengarkan, belajar untuk menyaring hal-hal yang mengganggu efektifitas belajar. Bagaimana untuk tetap bertahan ketika buntu (persisten) dan berusaha melakukan yang terbaik dalam keterbatasan waktu sehingga bisa semaksimal mungkin.
Belajar memahami dan mencari cara sendiri untuk memahami hal yang baru. Bukan belajar namanya jika hanya mempelajari apa yang sudah dipahami. Karena ketika berhadapan dengan orang lain kita tidak cuma mendengarkan apa yang bisa kita pahami namun juga memahami apa yang belum pernah kita hadapi sebelumnya. Bukankah itu hal yang sering kita hadapi sehari-hari? Setiap hari ada saja kejadian yang tidak masuk di akal. Disini hasil dari pembelajaran selama ujian itu diterapkan. Bukan ilmunya atau jawaban yang tertulis di lembar kertas namun karakter yang telah teruji selama menghadapinya.
Oleh karena itu saya kurang setuju dengan peniadaan ujian nasional karena merupakan bentuk kemanjaan siswa. Kita tidak sedang membentuk generasi pemalas kan? Mereka harus dibiarkan menghadapi persoalan bukan dimanjakan. Namun saya tidak setuju dengan cara mentidak luluskan siswa karena hanya akan menghalangi mereka untuk maju dan untuk berhadapan dengan persoalan baru. Sering hal-hal baru masalah baru justru menjadi percikan ide untuk memahami masalah terdahulu yang belum bisa dipecahkan.
Pemimpin bangsa di masa depan hanya akan terbentuk dari orang-orang yang teruji menghadapi persoalan bukan yang lari dengan pengalihan isu. Untuk memimpin sebuah bangsa dengan berbagai persoalan yang makin rumit tidak mungkin bisa jika generasi penerus diberikan persoalan yang pernah dan telah dipahami sebelumnya.

0 Responses to “Pembentukan Mental dan Karakter Melalui Problem Solving”