Capek membaca berita yg lebih banyak isu dengan kebenaran yang belum utuh yang diplubikasikan begitu saja untuk mencari perhatian menghidupkan dunia jurnalis. Kita pun sibuk membahasnya hingga bahkan tidak memiliki waktu untuk memperhatikan hal yang lebih tepat untuk diperhatikan. Kita tidak bisa hanya menjadi penyerap berita, konsumen ilmu pengetahuan, hanya berpikir sebatas dugaan tanpa tindak lanjut pembuktian akan kebenarannya.
Akupun merasa sikap ilmiahku telah hilang. Sikap ini seharusnya dimiliki semua orang bukan hanya ilmuan. Ini tentang bagaimana bersikap mempertanyakan, mencari bukti, bereksperimen untuk membuktikan, menyampaikan untuk diperdebatkan lagi. Akhir-akhir ini aku begitu malas dan menerima saja setiap informasi yang masuk. Membaca beberapa blog yang berlabel science saya mempertanyakan lagi diri sendiri betapa tertinggal peradaban kita dibandingkan orang di luar sana. Hal ini dilihat dari kedalaman penyampaian terlepas dari benar atau salah yang menjadi tugas kita juga untuk mendebat isi dengan menunjukkan data dan hasil eksperimen yang ada.
Lalu apakah cukup jika data eksperimen hanya mengambil dari apa yang dilakukan orang lain? Pengalaman menyadarkan kalau terlalu banyak hasil direkayasa dan ilmuan juga manusia yang bisa salah dan juga memiliki kepentingan. Memandang negatif terhadap hasil keilmuan juga bukan solusi yang tepat karena tidak akan membawa kita kemana-mana malah terjebak sikap jago berkomentar, menaruh harapan pada hal diluar diri kita lalu lupa hingga sensasi berita mengingatkan lagi. Saya dan kebanyakan orang sering merasa puas dengan pandangan kita yang hanya dari satu sisi, tak mau didebat hingga hanya menghasilkan kebenaran yang setengah. Menyampaikan suatu pandangan merasa cukup dan mengabaikan yang lain, kebenaran sebatas nyaman yang sebenarnya membawa ketidaknyamanan.
Saya contohkan ketika ada yang menyatakan peduli pada global warming lalu menyampaikan pendapat buat apa menjadi vegetarian kalau daging buatan juga di ekspor dari luar atau hanya menyalahkan pabrik sebagai penyebab utama polusi. Saya tidak mengatakan pendapat ini salah atau jalan vegetarian itu benar disini karena bukan bahasan masalah utamanya. Saya sedang bicara tentang SDM yang terlihat puas begitu saja tanpa perhitungan lebih lanjut. Yang saya tidak setuju adalah jika mereka yakin dengan apa yang mereka katakan maka buktikan. Jika skeptis terhadap pendapat yang lain buktikan.
Aku ingat sebuah dorama jepang berjudul Galileo, seorang profesor yag diminta menyelesaikan beberapa kasus kejahatan yang aneh. Dia tidak berbicara sebelum kebenaran yang dia dapat utuh. Kebenaran disimpan dulu, dirumuskan lalu melakukan eksperimen untuk membuktikan kecurigaannya. Saya tidak berharap kita seperti itu karena saya sendiri tidak sejenius itu. Saya butuh pendapat orang lain untuk mendebat untuk menyempurnakan keingintahuan saya. Saya masih jauh dari memiliki sikap ilmiah, namun setelah sadar ini saya harus bertindak memperbaiki metode saya secara berkelanjutan.
Kita butuh bereksperimen ketimbang hanya menjadi konsumen ilmu pengetahuan. Berkesperimen tentu butuh alat yang sangat mahal yang pemerintah sendiri enggan membiayai karena mereka adalah cerminan kita_makhluk setengah_jika membeli dari luar. Sehingga kita butuh keterampilan untuk membuat alat yang juga memerlukan ilmu yang tidak sedikit dalam perancangannya. Semua butuh kesabaran dan keuletan, hal yang juga jarang dimiliki bangsa kita.
Saya tidak ingin panjang lebar lagi mengingat tulisan ini berbahasa indonesia karena ingin dibaca, dipertanyakan dan memberi pengaruh pada masyarakat indonesia walau sedikit atau tidak ada sama sekali. Kenapa tidak sama sekali? bisa saja karena kita lebih nyaman terapung dalam isu, gosip dan berita yang terus berulang daripada memeras otak . Selain itu mengingat masyarakat malas membaca apalagi yang isinya ribet2 gini (entah apa namanya klo membaca blog luar yang saya sebut sebelumnya)

0 Responses to “menjadi lebih ilmiah dalam menanggapi informasi”