17
Jun
09

Mempertanyakan kesetiaan

Status dari facebook seorang teman yang menyatakan: “Tak pernah sadar sebelumnya, aku tak setia pada apapun” mengingatkanku sewaktu di Bali kemarin. Ramai aku dengar cerita tentang perselingkuhan, pengkhianatan pada teman bahkan sesama keluarga. Ketika seorang teman wanita berkata kalau semua lelaki sama saja, pengkhianat, dengan sombong aku berkata: “loh jangan disamaratakan donk, saya belum pernah selingkuh selama punya pacar, jadi saya tipe lelaki yang setia dong!!”

Setelah beberapa minggu tiba-tiba saya ingat akan pelajaran agama yang dulu selalu saya catat tapi ternyata tidak dilaksanakan dengan benar (emang ada yang udah diterapkan? :P ). Sebuah ajaran tentang Satya (dari bahasa sanskerta yang berarti setia). Ada beberapa pembagiannya_saya lupa tepatnya_seperti setia pada pikiran, setia pada kata hati, setia pada perkataan dan setia pada perbuatan.

Maksud hati pengen menelaah lagi dan mengingatkan akan ajaran ini ke orang eh… malah kepikiran pertanyaan yang menuju pada diri sendiri: “Benarkah saya setia? Setia pada apa? setia pada siapa?” Pertanyaan ini timbul karena teman wanita saya berkata kalau wanita telah jatuh cinta pasti bakal nancep banget biarpun sudah disakiti bahkan dikasari (koq bodo banget ya…atau saya yang ga ngerti? namanya juga lelaki :D ). Sedangkan saya begitu mudahnya jatuh cinta hingga mungkin tidak mengenal cinta seperti apa yang dirasakan kaum hawa ntu.

Setia…setia…setia…lalu aku sadar aku bukan orang yang setia, ketika aku menyatakan cinta, ketika berkomitmen untuk menjadi sejoli itu seperti sebuah janji, yang tak terucap namun tidak aku maknai. Ya…ya…aku telah berkhianat pada komitmen yang telah kami bangun, pada kata-kata cinta yang telah kuucapkan.

Setia…jangankan pada orang lain, setia pada diri sendiri saja tidak. Pada komitmen untuk berusaha, pada cita-cita, pada apa yang aku perjuangkan. Lupa dan selalu lupa. Tulisanku sebelumnya sebenarnya dapat dikaitkan dengan kesetiaan. Tentang orang “Bijak” yang setia pada cita-citanya dengan membuat kesempatan itu ada bukan mencari-cari kesempatan. Tapi aku terdesak oleh waktu dan pengharapan untuk mengambil berbagai kesempatan yang datang, yang mengiming-imingkan kenikmatan hidup dan mengalihkanku dari cita-cita. Terdengar sepele, orang-orang akan menganggap hal itu biasa, toh semua juga begitu. Tapi dalam kekosongan hidup ini aku menyadari aku makin jauh dari cita-cita. Kosong dalam ketiadaan integritas dan karakter.

Mungkin benar kalau kesetiaan itu “nonsense” klo kata teman yang berkomentar di status itu. Akupun harus mengutip lagi untuk diriku sendiri kalau aku tak pernah sadar sebelumnya, aku tak setia pada apapun. Namun bagaimanapun nasi yang telah menjadi bubur tidak perlu disesali. Tinggal tambahkan sayur-sayuran, bumbu, kacang-kacangan plus kecap, dengan komposisi yang pas buburnya bisa jadi lebih nikmat daripada nasi, wuehehehe….


3 Responses to “Mempertanyakan kesetiaan”


  1. June 24, 2009 at 9:12 pm

    maju terus walau terseok-seok lebih ho’oh toh, dibanding terus mewek :)

  2. 3 newbie
    August 26, 2009 at 4:42 pm

    semangat cuy


Leave a Reply