Berhubungan dengan tulisan saya sebelumnya saya mau cerita sedikit kenapa saya keberatan menolak saran-saran religius dan spiritual dari orang lain atau menolak ikut suatu kelompok atau aliran spiritual tertentu. Ini bukan karena merasa lebih pintar atau karena berpikir apa yang dinasehatkan tidak benar. Teori sudah begitu banyak di otak saya sehingga tidak akan seimbang jika akhirnya teori lagi yang saya dapat dan memang teori yang ada hanya itu-itu saja, belum ada yang menyampaikan sudut pandang baru tentang masalah yang saya hadapi. Apakah nasehat yang benar-benar dibutuhkan sekarang? Siapa yang paling memahami masalah kita adalah kita sendiri apabila memang berusaha memahaminya.
Percuma jika ada yang mengatakan sembahyang menenangkan jiwa tapi ketika bertindak hanya berdasarkan kecemasan dan ego masing-masing. Patutkah saya mendengarkan mereka yang seperti itu? Ada yang menawarkan kedamaian hati tapi yang terlihat kedamaiannya membentuk ketidakpedulian kepada orang lain. Kedamaian yang diikuti dengan menghindari masalah yang sebenarnya memberi kesempatan untuk berkembang. Keadamaian yang tidak nyata, hanya berlaku pada ruang dan waktu terbatas.
Bukan kedamaian seperti itu yang saya inginkan. Kedamaian yang nyata disaat menghadapi berbagai masalah tanpa harus menghindarinya hanya untuk ketenangan. Pikiran yang tenang, nafas yang teratur, kesadaran yang maksimal sehingga masalah terlihat jelas dan solusi terbaik ditemukan. Itu yang kuharapkan. Saya pikir hanya dengan berlatih sendiri hal ini bisa terjadi, tanpa mistis hanya diskusi dengan diri sendiri dan terus melatih pikiran. Bercermin dari orang lain dan menanyakan diri sendiri. Kedamaian itu yang akan tetap ada ketika dihadapkan dengan berbagai kepentingan, ketenangan agar tetap tegar ketika berhadapan dengan godaan yang mengalihkan perhatianku, agar tetap tenang dan sadar di tengah hiruk pikuk informasi dan selama mengambil keputusan akan pilihan-pilihan hidupku.
Bisakah Anda menunjukkan kepribadian seperti itu kepadaku? Jika tidak akan sulit untukku menerima saran-saran Anda. Kadang saya sendiri terlalu ekstrim menolak hanya untuk menunjukkan ketidaksetujuan saya terhadap apa yang Anda lakukan. Bukan berarti tidak menyukai Anda namun hanya teori yang tidak sesuai dengan contoh dan Anda tidak berusaha untuk sekedar menanyakan pada diri sendiri apakah tujuan Anda yang sesungguhnya telah tercapai. Ada yang menjelek-jelekkan agama atau aliran keyakinan yang berbeda bahkan ada yang saling berperang karena merasa paling benar.
Ada alasan lain juga kenapa aku tidak tertarik untuk masuk suatu kelompok spiritual tertentu. Aku tidak suka jika semua harus diajarkan serba jadi dan cepat. Lebih baik rasanya aku mencari sendiri tanpa ikatan dengan kontemplasi dan visualisasi diri. Alami penderitaan dan kegelisahan hidup dulu karena hanya dengan itu aku sering mendapat inspirasi. Saran-saran yang pernah aku dengar dari para guru biarlah aku simpan dulu sebagai referensi selama mengalami hidupku.

0 Responses to “Mencari Tauladan”