09
Jun
09

Kaze

Dalam panasnya pertempuran, ada samurai yang tergesa-gesa layaknya sekawanan ikan, yang melesat kesana kemari, menunjukkan banyak kegiatan, tapi tidak membunuh terlalu banyak musuh. Takeda Shingen yang agung akan duduk, memegang kipas perangnya dan mengarahkan pasukannya. Dia bisa melakukan itu karena dirinya memiliki tempat duduk yang strategis; pada titik di mana seluruh pertempuran akan diputuskan. Mereka menyebutnya Sang Gunung. Dia memikirkan pertempuran itu dan tahu dimana Sang Gunung sebaiknya diletakkan. Dia tidak mencoba lokasi-lokasi berbeda seperti kutu busuk yang melompat-lompat sepanjang tikar tatami. Jika aku ingin menjadi Matsuyama, gunung cemara, seharusnya aku mengambil pelajaran dari Shingen dan memikirkan apa yang sudah kuketahui dan apa yang ingin kulihat. Setelah itu, aku baru bisa menentukan gunung di tempat di mana aku kemungkinan besar melihatnya

Kaze, karya Dale Furutani

Membaca ini kembali aku ingat pada kutipan lain yang kira-kira seperti ini: “Orang bodoh membuang kesempatan, orang pintar memanfaatkan kesempatan sedangkan orang bijak menciptakan kesempatan”. Jika seperti itu lalu banyak sekali orang “pintar” di sekitarku, yang akan selalu mengambil apapun kesempatan yang ada. Dari sudut pandang lain saya memahami mereka sebagai orang tanpa tujuan kecuali uang atau jaminan kesejahteraan hidup dan menyerahkan masa depannya sepenuhnya pada Sang Takdir. Sedangkan orang “bijak” lebih mencoba memahami apa yang dia inginkan, apa yang ingin dia perjuangkan, meyakini kodratnya dan menciptakan kesempatan untuk menyukseskan apa yang ingin diraihnya. Tidak peduli akan prospek pekerjaannya, tidak hanya mengalir bersama arus tapi memahami arus dan memanfaatkan kelebihan dan kelemahannya untuk mencapai apa yang dicita-citakannya. Orang “bijak” ini bahkan berani membuang kesempatan lain yang dirasa tidak mendukung cita-citanya atau malah mengalihkannya. Membuatnya hampir berbeda tipis dengan orang “bodoh”. Melakukan itu tentu butuh keberanian yang sangat besar. Keberanian bukan tidak mengenal takut, tapi mengenali ketakutannya, menghadapinya dan menjadi kuat bersamanya. Seperti panglima perang yang akan menyerang musuh yang menutup setiap kesempatan yang dimilikinya untuk mundur.


0 Responses to “Kaze”



  1. No Comments Yet

Leave a Reply