Saya terkesan dengan komentar putri Gus Dur tentang bapaknya. Bahwa ketika mereka kecil mereka tidak dididik dengan larangan seperti orang tua kebanyakan. Gus Dur tidak pernah mengucapkan tidak boleh begini dan tidak boleh begitu pada anaknya. Yang dia beri tahukan hanya penjelasan tentang berbagai jalan yang tersedia dan konsekuensinya lalu Beliau memberikan kebebasan pada anaknya untuk memilih. Suatu cara yang memerlukan kepercayaan yang sangat tinggi pada anak-anak dimana perlu kekuatan untuk menerima apa pun yang menjadi pilihan anak-anak, menerima mereka bagaimanapun jadinya mereka nanti dengan tidak menghakimi menggunakan berbagai nilai-nilai moral.
Selain itu dia juga sedikit sekali menasehati anak-anaknya dengan kata-kata karena nasehatnya tercermin dari sikap hidup dan perbuatannya. Seperti kata Gandhi: “My Life is My Message” mungkin begitulah cara terbaik untuk mengajarkan berbagai hal pada orang lain. Saya ingat sebuah cerita ketika Gandhi diminta menasehati seorang anak oleh ibunya si anak. Gandhi meminta waktu untuk itu hingga seminggu kemudian dia melakukan apa yang diminta sang ibu. Ibu itu heran dan bertanya kepada Gandhi tentang apa yang telah dilakukannya selama seminggu itu. Gandhi menjawab kalau sebelum menasehati seorang anak dia mesti melakukan dulu apa yang akan dikatakannya. Memberi contoh bukan perkataan.
Orang tua kebanyakan yang saya lihat cenderung menyuruh anak-anak belajar dengan paksaan. Anak-anak yang tidak mau belajar selalu menghindar dengan berbagai alasan jika disuruh belajar. Kemudian strategi cambuk dan wortel digunakan agar perintah mereka dituruti. Walaupun kadang berhasil cara ini juga menanamkan hal negatif seperti sifat materialistis atau bekerja karena desakan. Capek juga mendengar para orang tua itu terus berteriak menyuruh anaknya belajar yang dibalas dengan berbagai alasan oleh anaknya. Sayang sekali orang tua itu, yang mampu menjelaskan betapa pentingnya belajar, tidak menunjukkan semangat untuk belajar yang bisa jadi menjelaskan kepada anak-anak bahwa tanpa belajar juga bukan masalah. Intinya nasehat itu hanya menjadi kata-kata yang akan masuk telinga kanan keluar dari mulut yang berupa teori tanpa praktek. Tidak ada semangat belajar yang ditularkan, tidak ada budaya belajar yang terbentuk.
Seorang teman bercerita tentang kenapa bangsa Yahudi jadi lebih cerdas dari bangsa lain. Diceritakan kalau ibu-ibu disana selain menjadi ibu rumah tangga juga suka mengerjakan soal-soal matematika terutama matematika ekonomi yang lebih dekat dengan hidup mereka. Ketika arisan para ibu-ibu itu akan mendiskusikan jurnal ilmiah bukan ngerumpi atau ngegosip seperti yang lain. Ini bisa membentuk suasana belajar yang positif sehingga menjadi budaya yang kuat.
Apakah ini ada kaitan dengan tingkat pendidikan masing-masing ortu? Tapi ada juga ortu yang berpendidikan tinggi, mandiri namun tidak berusaha menyisihkan waktu untuk menemani anaknya belajar untuk memberi suatu ruang diskusi dan membuat suasana belajar yang menyenangkan. Buku-buku teks yang walaupun penuh gambar yang menghibur belum tentu cukup karena hanya bisa diam tanpa interaksi yang dinamis dengan si anak. Tidak ada tempat bertanya, tidak ada yang memberi sudut pandang berbeda untuk memahami apa yang sedang dipelajari. Akhirnya anak-anak malah sibuk mencari pelarian seperti TV atau jajan.

0 Responses to “menjadi tauladan”