Aku belajar profesionalitas dari seorang pegawai yang hanya digaji 500 ribu sebulan, tentang bagaimana dia ingin ikut pelatihan agar dapat bekerja dengan lebih cekatan dan lebih baik. Lalu kenapa tidak aku mengerjakan soal-soal fisika untuk melatih diri mengerjakan dengan lebih cekatan. Memahami permasalahan yang diberikan dengan lebih cepat dan tepat. Mencari metode yang lebih baik dalam mengerjakannya. Entah aku akan menjadi seorang fisikawan atau menjadi seorang bisnisman bahkan gelandangan, mengerjakan soal-soal fisika dapat melatih kemampuan analisisku, kejelian membaca masalah dan memahami sistem, dan daya tahan bila menghadapi kebuntuan. Pada akhirnya menjadi apapun dengan label apapun pikiranku jadi lebih siap menghadapi setiap masalah.
Aku lupa karena fisikalah pola pikirku berubah, imajinasiku melayang tinggi memahami alam semesta yang tak terbatas oleh ruang waktu yang relatif. Tapi kemana bintang yang bersinar yang selalu menjadi pedomanku jadi temanku membayangkan semesta. Langit malam ditutupi awan pun lampu kota yang bikin polusi cahaya meredupkan bintang. Hey, bukankah bintang dulu menjadi alat navigasi? Tidakkah anak-anak jalanan di malam hari memerlukan bintang, setidaknya untuk menyinari hati mereka? Tidakkah cahaya mereka lebih indah daripada lampu diskotik yang sekarang menjadi tempat berkumpul? Aku sendiri merindukan bintang, ingin menari di padang rumput yang luas di bawah kerlap-kerlip sinarnya atau tiduran sambil memvisualisasikan alam semesta dengan variabel-variabel fisika yang aku ketahui. Dan bukankah variabel yang aku pahami masih sedikit sehingga gambarku belum utuh, kenapa tidak belajar lagi untuk melengkapkannya?
Tidak hanya masalah makrokosmos, yang mikro pun belum juga aku pahami. Jika dulu membeli nasi goreng sambil memandangi api sambil membayangi bagaimana interaksi partikel yang menimbulkan api sekarang lebih sibuk memandangi wanita cantik yang berlalu.
Alasan lain untuk belajar fisika lagi adalah untuk mengembalikan lagi kemurnian pikiran yang telah dinodai kecemasan akan materi dan label duniawi, masih bisakah? Seperti Newton, menjadi anak kecil lagi yang asyik bermain-main dengan pasir di pantai berharap menemukan kulit kerang yang cantik. Bukan untuk dijual tentu saja namun karena keindahannya.

kurang. tulisannya kurang
kurang apa maksudnya? mang ada batasannya?
layaknya gravitasi yang menarik, semoga ini tarikan yang terjadi untuk mengembalikan pada tujuan, bukan suatu ekstrim yang timbul karena rasa muak terhadap ekstrim lainnya. karena sepengetahuan saya, ekstrim selalu menghasilkan ekstrim yang lainnya.
Thanks, ga ada yang ekstrim koq justru kebingungan karena entropi yang semakin besar. Fisika sangat banyak manfaatnya walaupun ga berkutat dalam bidang ini. Tapi saya yang memang menekuni bidang ini merasa akhir2 ini kurang terpancing dengan problemnya malah tenggelam dalam problem yang lebih populer, sensasional dan praktis. Tidak ada kesetimbangan jadinya….
senang bagian bintang-bintangnya. suka stargazing juga yah. katanya pada malam nyepi itu bintang2 itu paling indah karena malam begitu tenang dan sunyi ditambah lagi tidak ada polusi kendaraan seharian, jadi bintangnya terlihat begitu manis.
benar ga nara, pengen ke bali kalo bisa pas nyepi, ikut nimbrungan nyepi ama stargazing malamnya
Kayaknya iya saya udah lama ga nyepi di bali selalu di bandung yang tidak sepi. Moga aja nyepi berikutnya bisa di bali
wuaaaaa naraaaaa….terharu banget pas baca bagian bintang2, I feel the same way too, mungkin karena itu ya aku paham apa yang kamu rasakan. Kerinduan yang terpendam akan alam semesta. Dah cinta mati banget sih. Walaupun ada yang bilang kamu ga bisa hidup dengan jadi tukang belajar bintang, tapi rasanya belajar alam semesta adalah untuk mengenal diri sendiri. Bukankah itu hal yang wajar dan alamiah ya, sewaktu kita tertidur di padang yang luas, menatap gemerlap ribuan bintang, sudah pasti kita akan tergoda untuk menanyakan, paling tidak seberapa luas ya langit?, seberapa jauhkan alam semesta yang kita pandangi, apakah hanya ada kita?, kenapa kita ada di sini untuk melihat ini semua?.
Nara, tetap semangat ya! kangen euy bisa berdiskusi lagi kayak dulu uhuhuhu. kapan yak?
oia tanggal 26 januari ada gerhana matahari cincin. the best sitenya ada di anyer ato lampung. Kalo bisa abadikan yah, pengen banget bisa liat, tapi nampaknya ndak bisa huhuhu.
Hiks Nil aku juga terharu, tumben2nya kamu ngasi komen lagi, hahaha. Iya Nil, rasanya diri ini ilang lagi sejak menjauh dari apa yang kita cintai, malah saya biarin pikiran ma perasaan saya dipengaruhi ketakutan dan kecemasan yang tidak perlu.
Ya nih pengen diskusi lagi, pertanyaan2 kamu yang aneh(hehehe) selalu memancing niat untuk mencari jawabannya. Btw, anyer dimana? deket bandung ga? abadikan pakai apa, saya lukis aja bisa? hehehe
anyer itu deket serang, jakarta ke barat lagi. kira2 5 jam saja dari bandung. boleh2 digambar juga oke. ajakin temen2 yang laen kalo mau. yang punya digicam gitu. hohoho