Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau buatku. Bukan iri pada mereka yang bergelimang harta dan bisa membeli segalanya justru orang-orang yang setiap hari harus berjuang demi sepiring nasi dan garam. Walaupun miskin tapi ada sesuatu untuk diperjuangkan, entah mereka merasa bosan juga mungkin tidak sempat untuk berpikir tentang kejenuhan. Aku yang memiliki akses pendidikan yang tinggi dan hidup berkecukupan malah diliputi kebingungan tentang rencana dan mimipi-mimpi. Dalam posisi seperti ini ada tanggung jawab besar yang harus dipegang sehingga harus berpikir dalam dalam menggunakan apa yang aku miliki. Kebuntuan adalah sahabat yang rajin menjenguk membawakanku oleh-oleh kegilaan. Mungkin kelemahan mentalku yang menyebabkan aku iri sama mereka. Jika aku jadi mereka lalu aku akan iri juga dengan diriku yang sekarang. Masing-masing punya kehidupan dan tidak saling mengerti rasa satu dengan yang lain.
Aku mudah sekali terpengaruh dengan yang namanya dorama. Kehidupan ditampilkan sederhana tapi dengan orang-orang yang berjiwa besar. Bekerja hanya sebagai pelayan restoran tapi seperti menikmati apa yang mereka jalani. Melihat orang-orang seperti ini membuatku lebih bisa tersenyum daripada membaca buku motivasi yang menyajikan data pemasukan hingga sekian juta atau miliar. Kemarin ada yang manawarkan untuk ikut bisnis yang terdengar menjanjikan dengan pemasukan mingguan yang besar. Tapi bosan juga mendengarnya, tidak banyak pertanyaan yang antusias keluar dari mulutku hanya ngangguk-ngangguk. Bukan munafik jika aku bilang aku tidak temotivasi dengan uang. Faktanya berbagai motivasi tentang hidup sukses dengan uang banyak tidak cukup membuatku belajar keras dan berusaha. Mental calon orang miskin kali ya. Nyatanya aku bersemangat jika memahami sesuatu, misalnya ketika belajar fisika bersusah payah lalu memahami fenomena yang “waduh kerennya minta ampun” langsung kegirangan dan tertawa lebar. Aku juga lebih termotivasi belajar ketika ada teman yang bertanya yang lebih menantang untuk dijawab. Membaca kisah Mother Teresa yang memilih hidup miskin lebih membuatku bergairah. Kehidupan Harima yang kehabisan uang dan tidak punya tempat tinggal dalam anime “School Rumble” menurutku lebih keren. Tapi aku tetap suka membaca buku bisnis tertentu yang memberi cara pandang baru dan cerita-cerita tentang ide brilian yang merubah keadaan.
Mungkin sebenarnya banyak orang seperti ini tapi tidak sadar dan masih berpikir uang adalah apa yang mereka cari. Dengan bodohnya aku juga percaya hal ini sejak pertama kali kuliah. Begitulah pembicaraan orang-orang disekitar kita: tentang uang, kesempatan, kesuksesan. Mengorbankan jiwa mereka untuk pekerjaan yang tidak disukai yang mencuri waktu dan merantai jiwa hanya untuk kepuasan mendapat uang. Akhirnya topik pembicaraan disekitarku hanya tentang strategi bertahan hidup bukan maju menyerang. Jika kenyataan hidup tidak berubah dan kemiskinan lama-lama semakin kental saya rasa harus ada hal yang harus diubah yaitu paradigma tentang hidup masing-masing. Saya sendiri lebih memilih perkerjaan yang membuatku antusias. Jika sudah begitu uang pasti datang dengan sendirinya (mudah-mudahan bener).
Kemiskinan harta bukan masalah dasar yang harus dibenahi melainkan kemiskinan mental, itu yang saya amati dari orang-orang sekeliling dan mungkin dari diri sendiri juga. Yang penting akses terhadap pangan, kesehatan, pendidikan (dan internet
) dapat dijangkau setiap orang. Mengenai pendidikan (bukan sekolah) pernah kepikiran seandainya pemerintah mendirikan perpustakaan disetiap daerah bahkan yang terpencil. Di setiap perpustakaan disediakan para ahli yang bisa diajak diskusi jika pengunjung ingin memahami sesuatu. Sekolah cukup sampai SD saja dan ilmu selanjutnya cukup dicari dari membaca dan berdiskusi. Dengan ini kita juga belajar mandiri dalam belajar dan tidak perlu membayar biaya sekolah lalu datang ke ruang kelas hanya untuk merasa kebosanan. Mengenai ijazah bikin saja ujian yang bebas diikuti siapa saja dan mungkin kita akan terkejut dengan hasilnya. Atau mungkin jarang orang miskin datang karena sejak awal tidak memiliki sikap untuk belajar, atau karena disibukkan mencari uang dan pandangan bahwa sekolah adalah satu-satunya jalan untuk sukses.
Sebenarnya saya sedang bingung dengan mereka yang miskin tapi tetap bisa bertahan hidup bahkan tetap berkarya. Jika berada pada posisi mereka, adakah saya masih bertahan?

yan hui salah satu murid kebanggaan konfusius. hidup dalam kemiskinan, makan seadanya, tinggal dalam gubuk yang sederhana. tapi tidak sedikitpun dia kelihatan sedih,dia selalu bahagia. dia tidak pernah sekalipun tidak bersyukur. begitulah hidup, saya rasa setiap manusia adalah jiwa yang bebas, bebas menentukan bahagia atau tidak.
dan saya rasa uang bukanlah jaminan kebahagiaan. jadi carilah kerja yang kamu bisa enjoy. bukan karena gaji gede semata.
Hehehe, habis setiap kehidupan terlihat menarik dengan masalah2nya sendiri. Masalah pekerjaan bukan cuma tentang jenis atau minat tapi juga komunitas yang antusias yang menopang konsistensi belajar. Memang dari pengalaman beberapa orang kerja justru membuat mereka depresi dan stress tapi mereka tetap bertahan demi uang. Jadi saya cari dulu kerja apa yang bikin antusias ataukah bagaimana caranya biar antusias dalam bekerja? Hmmm…
Sie Siek (bener ga? terima kasih kamsudnya)
pemikiran yang bagus. semoga dapat kerjaan yang bagus yah.
sie siek, ngertilah. tapi itu lebih ke pelafalan bahasa indonesia. kalau mandarin punya roman spelling sendiri, kayak EYD bahasa indo. yang benar itu xie xie.
bukan tentang uang
tapi tentang kebahagiaan
mencari sisa sisa rasa syukur di antara semua keluhan
hi nara, mampir lgi hehehe, ditunggu update nya
Hi Mbak, lagi kurang inspirasi nih, hehehe
miskin n ga miskin ngga jamin smangat berjuang maupun kebahagiaan. semua tergantung diri kita sendiri. setiap orang punya tujuan masing-masing, ada uang, ada pengalaman, ada gengsi, ada kebanggaan, dan ada yang lainnya yang mungkin tidak pernah kita pikirkan. yang jelas menjalani sesuatu adalah pilihan kita sendiri. enjoy ato nggak tergantung kita sendiri. bertujuan uang atau yang lain juga pilihan sendiri. yang penting selalu bersyukur dan tidak pernah menyerah atas apa yang ingin kita capai.
huuuuu naraa…. (apa siih ainil ini, komennya dramatis mulu wkwkkw). Hal yang sama juga pernah terlintas dalam pikiranku (ckckkc, plagiat banget yak kamunya :p). adalah tentang bagaimana kita merasa cukup tentang sesuatu, awalnya muncul dari ngeliat banyaknya orang berbelanja untuk kemudian barang yang dibelanjakan dibuang, padahal masih bagus dan layak pakai. jadi berpikir, kadang kita memang hanya mengikuti hawa nafsu, merasa kita butuh padahal tidak. jaman ini juga jaman di mana pemikiran konsumerisme meraja lela. merk hp baru, ini baru, itu baru. do we really need that? menimbulkan rasa iri ketika ngeliat orang dapat gaji lebih gede, c mon do we really want that?. lagi belajar nih nar, bagaimana mengendalikan hawa nafsu.
@cerpen
Thank you O-chan (atau Desak??) Ganbate yo…
@Ainil
Ya nih apaan sih Nil dari dulu dramatis aja kayak di anime, hahaha, eits siapa yg niru nih??hihi. Sama2 nil, malah rasanya lebih lega jika tidak ada keinginan yang tidak perlu. Wajar sih karena kita butuh untuk dihargai dan dipandang/dilirik yang lain, tapi kita tidak pernah merasa kita benar mendapatkannya so menimbulkan rasa tidak puas yang harus diisi terus menerus. Sama-sama nil meredam hawa nafsunya, ga kuat juga jika rasa iri mengisi pikiran, sesak nafas jadinya jika tidak dipenuhi. Bukan lari tapi memang tidak perlu untuk itu
pertanyaanmu yang di bagian penutup mambuat saya berpikir juga hal yang sama. aaarghhh sama mulu hehehheh.
btw oot nih, si chris kemana sih? masih di bandung apa dah mengembara memenuhi tugasnya?
Ah bu Ainil niru-niru saya wae, hahaha. Chris masih di bandung jadi penunggu lab ayo kita kasih semangat
btw suka antariksa ya?
Yap, cuz banyak hal misterius terjadi di luar sana yang tidak terjadi di bumi, suka juga ya?
Suka bgt. habis antariksa itu luas. sayang cuma sering liat di buku-buku aja.