“If everyone love and nobody lie” itu sepenggal lirik lagu If Everyone Cared dari Nickelback.
Jadi ingat suatu ketika seseorang yang baru saja dekat dengan saya berbohong kepada orang tuanya. Apesnya saya menjadi kambing hitam yang mengajarkannya berbohong. Eits, bukannya baru saja kami dekat? Koq bisa dalam waktu sesaat dia belajar berbohong dari saya sementara saya waktu itu belum sempat berbohong darinya? Waktu itu awal kami jadian dan entah kebohongan apa yang dia sampaikan kepada orang tuanya. Saya malah bilang kepada dia untuk jujur kepada orang tuanya walaupun saya juga berbohong kepada orang tua saya tentang hal ini. Lah kenapa koq bohong? Kenapa anak-anak lebih memilih bohong kepada orang tuanya? Apa salahnya jujur? Kami yang masih muda tentu ingin jalan kami lancar-lancar saja. Jujur? Coba pikirkan konsekuensinya bila kami jujur. Jujur bisa menjadi tamparan bagi orang tua yang berakhir dengan dampratan, umpatan yang melemahkan moral. Daripada dipahami anak-anak akan dihakimi dan dipaksa mengambil keputusan yang tidak sesuai keinginannya. Bohong adalah jalan lari yang aman bagi anak-anak yang masih lemah. Buah kegagalan orang tua yang suka menyalahkan dan menghukum alih-alih mendengarkan dan memahami. Cerminan sikap posesif dalam topeng bernama kasih.
Belajar untuk mendengarkan dan memahami adalah hal yang sulit, siapa bilang punya anak itu gampang? Masih untung cuma berbohong. Beberapa anak malah memakai obat-obatan dan melakukan pengrusakan hanya untuk mencari perhatian hanya untuk didengarkan. Beruntung banget ortu yang tidak paham tapi anaknya masih “baik-baik”. Jika memang kasih sayang sama anak kenapa tidak berusaha keras untuk belajar mendengarkan? Mendengarkan dengan hati loh bukan cuma telinga.
Intinya saya tidak terima jadi kambing hitam. Sayapun mengalami dibohongi dan berusaha keras untuk menerima dan memahami. Sakit ya sakit tapi saya berusaha belajar untuk mengerti keadaannya. Dia tanya “Kamu koq ga bisa marah ya?” Sebenarnya marah tapi tidak tahu harus mengekspresikannya bagaimana. Melampiaskan ke dia hanya membuat dia jadi tambah belajar kalau berbohong memang lebih baik. Apalagi sayapun bukan orang yang jujur dalam banyak hal, jadi tidak ada hak memarahi dia karena berbohong. Memang sulit sih kalau mau sepenuhnya jujur.

“Belajar untuk mendengarkan dan memahami adalah hal yang sulit”
yak tul! sering banget mikir, seandainya aku bisa lebih sabar untuk bisa mendengarkan..
kasih itu menghajar juga loh
namun tak bermakna harus selalu menghajar.
saya pikir, suatu kasus itu diselesaikan kasus per kasus. tidak ada satu jawaban general untuk problem solving semua masalah. dan yang saya pikirkan adalah, kadang manusia melupakan adanya norma dan normal yang harus diperhatikan dalam menjalani kehidupan. itu sebabnya, bohong bisa menjadi suatu hal yang tidak lagi memalukan untuk dilakukan.
kesimpulannya, mengerti tak selamanya berdiam diri. disanalah memahami kita berorientasi pada solusi, bukan justru polusi. ha ha ha…jangan-jangan dia memang perlu sesekali dihajar, karena dalam konsep hidupnya telah tertanam suatu pohon yang menghasilkan buah bernama: “bohong itu wajar”. edun bukan?
NB: hajar juga tak selalu bermakna “main fisik”, walau bisa saja demikian. btw, sikap diam dirimu pun bisa jadi hajaran telak untuk dirinya.
Memang, apalagi tidak mungkin solusinya dapat dijelaskan hanya dengan satu post. Jadi ini untuk keadaan tertentu saja. Seperti ketika Arjuna membunuh Bhisma itu juga dengan kasih (sy belum begitu ngerti). Memahami juga masih telalu luas untuk dijabarkan maksudnya harus pinter-pinter kita membaca situasi dan mengenal kepribadian orangnya.
Diam sy maksudnya tidak melarutkan masalah itu, sy berusaha untuk ngobrol seperti biasa dengan menganggap sahabat (sulit sih). Begitu juga dia bakal tetap merasa terhajar.
Bicara hajar-menghajar saya lagi bingung gimana cara menghajar sopir angkot yg suka minta bayaran lebih dan tidak menghantar hingga tempat tujuan. Tampangnya pun ga ramah seperti minta dihajar bogem. Dibentakin ga ngaruh, didiemin sama aja. Ada ide ga?
waduh, saya kurang mendalami ilmu perangkotan niy. btw, coba aja di kalkulasi ongkos naik angkotmu sebulan itu bisa mencapai 500rb nggak? kalau iya, mending kredit motor aja.
eh bli, kenapa nggak kerja sambil kuliah aja? ngasih bimbel kek, patungan sama kawan untuk usaha apa kek, atau coba masukin cv ke kantor? lumayan kan, hasilnya bisa buat nge-redit ninja 250cc
yang ada di otak saya, menyelesaikan problem D tak selalu harus melewati A, B, C.
Bukan masalah uangnya, tapi sikap nya justru akan bikin orang enggan naik angkot. Padahal ada wacana mengurangi kemacetan dan mengurangi polusi dengan mengurangi pemakaian kendaraan pribadi. Kalau gini apa bisa? Yg untung kan dia juga (emang sih bukan cuma salahnya kalau dia tidak mengerti)
Ya bener juga klo banyak jalan menuju dayeuh kolot apalagi variabel yg mempengaruhi kepribadian manusia terlalu kompleks, tapi cuma ini yang ada di otak saya jadi bahasnya ini saja dulu.
Gak ikut ikutan *hihuhihi*
kalau orientasinya ingin menyampaikan kebenaran, faktanya di sekeliling kita dipenuhi ketidakbenaran. Apakah kita harus berkutat terus pada suatu kasus hingga kebenaran dinyatakan? Itu sebabnya sah-sah saja mencari alternatif dalam mencapai problem solving.
Jika mengkaitkan alternatif dengan judul “bohong & kasih”, maka disanalah kita mulai berfikir tentang kasih yang tak sempit. karena menyempitkan kasih sangat potensial menciptakan kebohongan.
NB: kalau orientasinya memang pada meminimalisir polusi, ya sepedaan aja sekalian.
kebetulan sekali kamu post ini. kemaren baru beli buku 我的錯是大人的錯(judul inggrisnya: don’t blame me, it’s not my fault). kalo jdl mandarinnya diterjemahin ke bhs indo artinya kesalahanku adalah kesalahan orang dewasa. saya suka abis ama buku ini. mengutip kata2 didalamnya yang berhubungan dengan posting kamu.
“demi kebaikan anak, orang tua sering tidak memberitahu anaknya semua masalah, jadi setelah anak dewasa, semua masalah juga tidak akan diberitahukan ke orang tua”
—> so jadi kalo anak berbohong, bisa dimengerti kan
“jika kamu merasa di dunia ini tidak ada orang yang benar-benar memahami kamu, mungkin anak kamu adalah salah satunya, saat anakmu merasa bahwa anjing peliharaannya lebih mengerti dia, janganlah cemburu pada anjingnya”
—> jadi memahami orang lain bukanlah hal gampang, mungkin kalau mau memahami orang lain kita harus belajar kepada anjing. heehehehhe
*terjemahin indonya mungkin ga akan sebagus bahasa aslinya
NB: komen saya di atas tolong dihapus donk, ada tulisan yang salah
Kebenaran,apa ada? Tidak perlu melihat sekeliling. Dalam hati sendiri saja masih dipenuhi kebohongan. Bahkan hal yang seharusnya kecil harus ditutup dengan kebohongan karena bisa menjadi besar begitu disampaikan.
Kalau deket lebih suka jalan kaki tapi kalau dari dago ke dayeuh kolot yang butuh 1,5 jam naik angkot capek duluan kalau naik sepeda. Apalagi jika begitu kerja tubuh makin cepat dan bernafas juga butuh makin cepat dan dalam. Dengan udara yang terpolusi timbal kayak gini makin cepat ni otak rusak.
Wah, bagus tuh bukunya, padahal pengen nulis buku tentang itu sejak dulu. Pengen banget ortu2 baca dan sadar akan hal itu. Agar ortu bisa melihat perilaku anaknya sebagai hasil aksi reaksi terhadap sikap mereka ketimbang menyalahkan anak yang malah menyudutkan hingga membuat masalah yang lebih besar.
Kadang saya pikir kemajuan sebuah bangsa tergantung pada sistem yang berlaku dalam keluarga yang lebih kecil. Percuma kita mengaku “berbhineka tunggal ika” kalau dalam satu keluarga saja perbedaan tidak bisa diterima termasuk toleransi berkeyakinan. Pernah juga dosen saya mengatakan kalau korupsi dan nepotisme tidak bisa dibilang salah karena sudah mengakar dalam budaya kita. Beliau mencontohkan dalam keluarga ketika bersilaturahmi kadang kita dikenalkan dengan keluarga lain sambil bertransaksi agar salah satu anak dibantu masuk perusahaan tempat anak dari keluarga lain bekerja. Hal kecil tapi dari situ sifat korup bisa muncul dan menjadi hal biasa. Jadi saya pikir keluarga adalah faktor penting kemajuan sebuah negara.
Anjing kan memang penurut, coba kucing yang lebih liar dan semaunya. Katanya anjing diibaratkan seperti samurai dan kucing seperti ninja, hihihihi
Susah kalau sudah skeptik dengan kebenaran itu sendiri. So, kasus angkot itu tak lebih dari sekedar usaha melampiaskan kebencian atas ketidak adilan yang sedang berlangsung.
untuk penyelesaian masalah, yang harus diselesaikan itu substansinya, bukan berkubang pada masalahnya yang akhirnya justru membuat kita skeptik.
Ya, semakin berpikir keras mencoba melihat berbagai sudut pandang semakin jauh sy dari solusinya justru keraguan yang muncul. Bener ada rasa benci dan tidak tahu harus pada siapa kebencian harus dilampiaskan. Marah sama mereka tidak ada gunanya sama sekali. Ah, sudahlah onani saja dulu dengan menulisnya di blog. Substansinya itu apa nih? Mohon pencerahannya
itu sudah dijawab sendiri. mengaku ada kebencian kan? dan tak tahu harus melampiaskan kepada siapa?
alternatif yang saya sampaikan adalah cara yang ditawarkan supaya dirimu tak harus terus menerus benci dengan supir angkot, bahkan hingga kebenciannya menggunung. hari ini kamu bisa diam, namun kebencian yang menggunung tak menutup kemungkinan untuk kamu memutilasinya di kemudian hari. ya, itu memang judul thread mu ini, “kasih & bohong”. kamu nampak diam penuh kasih, namun penuh kebencian.
saya nggak nuduh loh, kamu yang mengatakannya sendiri.
sebenarnya alternatif yang saya simple saja, namun kamu sendiri yang berputar-putar hingga jauh dari solusinya seperti yang kamu katakan. onani itu memang enak kok, tapi memalukan
Diam ga selalu penuh kasih, udah terlihat dari mata saya waktu itu. Hehe, sori nih ngerepotin, saya udah berusaha ngelupain tuh sopir angkot tapi bukan itu ternyata masalah utamanya. Kebencian membuat pikiran kacau jadinya ya ngacau ngomongnya. Ternyata kebencian hilang setelah saya belajar menerima diri sendiri. Koq bisa? kebencian timbul bukan karena sopir angkot walaupun akhirnya melampiaskan kesitu. Mungkin karena saya terlalu sok pengen merubah keadaan dengan berteori dengan tulisan tapi ketika berhadapan dengan kenyataan saya hanya bisa diam, bukan karena pengecut karena saya pernah adu mulut sama sopir angkot yang lain hingga akhirnya hanya adu ego, tapi karena tidak tahu harus mengatakan apa agar tuh sopir angkot bisa merubah sikapnya. Mungkin saya marah sama tuh sopir tapi kebencian paling besar justru pada otak saya yang dudul ini. Hehehe, it’s okay now cuma harus belajar sabar ma diri sendiri.
Nara, I’ve tagged you. Please check out my blog
belajar memahami kekurangan dan kelebihan masing2 ya gak???
Ya, daripada menyalahkan yang lain atas hal yang menimpa diri sendiri