21
Oct
08

Solusi Divergen

Satu hal yang saya pelajari dari Fisika adalah begaimana cara memecahkan masalah apabila ditemukan kasus-kasus yang rumit. Apabila ketika mengerjakan sebuah persamaan sering ditemukan masalah yang harus diabaikan. Jika tidak maka kebenaran/solusinya tidak akan ketemu bahkan hingga kepala botak, muntah darah lalu masuk liang kubur. Misalnya ketika bertemu dengan sebuah deret yang divergen, artinya ketika nilainya bertambah menuju tidak berhingga maka solusi yang dihasilkan juga menuju tidak berhingga. Dalam dunia nyata mungkin bisa diterapkan ketika kita menemukan solusi yang akan melebar kemana-mana yang tidak ada ujungnya. Bila menemukan hal seperti ini akan diabaikan dan beralih mencari solusi yang konvergen, artinya ketika nilainya menuju tidak berhingga maka solusinya akan menuju pada suatu nilai tertentu.

Hal ini bisa diterapkan ketika memiliki pertanyaan yang jawabannya akan melebar kemana-mana, tidak ada ujung karena menjelaskan sesuatu yang tidak terdefinisikan seperti “Apa itu Tuhan”, “Apa arti hidup” dan lain-lain. Tentu saja ini bukan ilmu eksak dan nilai kebenarannya bisa bermacam-macam sehingga saya tidak mau menyebutnya sebagai kebenaran. Ini tidak akan memberi kita dan bahkan menghalangi kita menemukan jawaban yang benar-benar memuaskan rasa ingin tahu kita. Apa hukum fisika menyatakan kebenaran yang sejati? Saya sendiri tidak yakin karena fisika menggunakan teknik reduksi dalam menyelesaikan masalah. Artinya kebenarannya masih bersifat spasial. Namun tidak seperti humaniora fisika membatasi diri pada kajian yang dapat diuji secara logis dan empiris. Saya sendiri yang masih sarjana juga masih bingung karena belum bisa memahami kelogisan persamaan matematisnya secara utuh tapi jawaban-jawaban yang diselesaikan dengan logika ini ternyata dapat diuji dengan eksperimen. Misalkan fisikawan teoretis yang merumuskan sebuah teori tentang keberadaan suatu partikel atau benda luar angkasa yang sebelumnya tidak diketahui ada tidaknya. Dalam teorinya biasanya dapat diturunkan gejala-gejala yang mengikutinya dengan menggunakan logika. Ternyata akibat dari teori ini memang dapat diuji dengan eksperimen. Imaginasi mendahului pengamatan itulah yang saya kagumi dari komunitas berotak encer ini. Coba saja lihat hal praktis seperti komputer quantum. Dunia kuantum masih belum dipahami artinya oleh para fisikawan sekalipun. Komputing hanya menggunakan prinsip probabilitas karena kita tidak bisa menyusun benda dengan ukuran lebih kecil dari nanometer dengan tepat, tapi kenyataanya prinsip kerjanya berjalan dengan baik dengan kesalahan yang sangat kecil. Koq bisa? Saya juga masih heran :p

Kembali lagi ke masalah divergensi. Apakah pertanyaan tentang Tuhan atau Hidup tidak memiliki nilai? Bicara tentang manusia adalah masalah jiwa. Jawaban/kebenaran bisa jadi bukan hasil akhir yang didapat karena pertanyaan akan berakhir pada pertanyaan lain hingga tidak menemui ujungnya seperti solusi divergen. Lalu apa artinya bertanya jika begitu? Coba saja bayangkan dalam hidup tidak ada pertanyaan, tidak ada yang membuat penasaran. Orang-orang yang hobi gosip juga sama saja hanya yang diurus beda. Apakah yang tidak mempertanyakan hal seperti ini adalah orang yang sudah tercukupi? Merasa bahagia? Jika ya, kenapa orang yang sudah kaya dan berkedudukan tinggi tidak pernah puas? Kenapa shopping menjadi hobi walaupun barang yang dibeli belum tentu digunakan? Jika bahagia kenapa ada istilah mencari kesenangan? Apa dalam kondisi sekarang tidak senang sehingga harus dicari lagi? Kenapa juga orang sibuk ngurusin kehidupan orang lain dengan ngerumpi? Apa karena dia sudah merasa bahagia? Atau bahagia melihat kekurangan orang lain? Lalu apa definisi bahagia? Adakah bahagia itu atau cuma rasa senang sesaat? Tidak semua orang mau bertanya tentang ini, sah-sah saja sih, karena bisa bikin gila juga jika tidak kuat mental. Tapi jika kuat dan tekun mencari bisa jadi dapat pencerahan seperti Sidharta.

Dulu memandang langit selalu memunculkan pertanyaan, sampai mana batas keberadaan ini? Seperti apa batasnya? Jika dibatasi oleh apa bukankah “apa” itu juga keberadaan? Tidak pernah ketemu jawabannya tapi mempertanyakan itu membawa pada pangalaman spiritual yang tidak terlupakan. Menurut saya jauh lebih dalam dari doa yang pernah saya lakukan. Kesimpulan saya: Pertanyaan ini memiliki nilai secara psikologis walaupun tidak pernah memiliki nilai kebenaran. Lalu dimana fisika itu saya terapkan? Sederhana saja ketika cemas akan masa depan yang tidak pasti. Atau ketika cemas tentang apa yang dipikirkan orang lain tentang kita, dll yg bisa dicari sendiri. Memikirkan kecemasan ini sering membuat lupa akan problem yang bisa kita selesaikan yang bersifat konvergen daripada menduga-duga sesuatu yang ujungnya tidak jelas seperti persamaan divergen. Apa perlu belajar fisika untuk memahami hal ini? Tidak juga, tapi melihatnya dari berbagai sudut pandang rasanya lebih baik.


10 Responses to “Solusi Divergen”


  1. October 21, 2008 at 11:30 pm

    oh great posting nara. i do love this one. tak pernah terpikir olehku, karena sejujurnya aku tak pernah bisa mudeng logika fisika, padahal sudah coba belajar :)

  2. 2 nara
    October 23, 2008 at 2:09 pm

    Thanks Winda, tenang aja yg dari jurusan fisika aja ga mudeng juga :p

  3. 3 Gac
    October 26, 2008 at 2:22 pm

    Wow.nara!!artikel yang saya tunggu2.wow.keren abis.nanti saya balas komen ttg isinya. Saya masih terkesima :) hahaha.
    Keep on going. Saya jg suka banget fisika.

  4. 4 nara
    October 27, 2008 at 10:28 pm

    Masa sih, coba kamu baca buku fisika yang umum kayak “The End of Science”, atau “Cosmos” nya Carl Sagan, dll. ini masih jauh kalau dibandingkan meraka (ya jelaslah ya,hahaha). Maksudnya pasti lebih terkesima lagi. Ditunggu komennya…

  5. 5 ikan_ikan
    October 28, 2008 at 10:01 pm

    wah manusia itu ternyata sangat mementingkan bagian yang tampak(bagian luar). ketika kamu post solusi divergen ini, saya tidak tertarik membacanya karena dari judulnya aja udah buat puyeng(ilmiah banget). tapi isinya menarik sekali.

    pertanyaan tentang Tuhan memang tidak ada ujungnya seperti solusi divergen. semakin kamu mencarinya kamu akan semakin bingung. Sidharta aja udah menyatakan bahwa Tuhan itu Maha personifikasi artinya tidak dapat digambarkan. dan definisi tentang Tuhan yang kita ketahui cuma akan membuat kita bingung.

    -a journey to find God-

  6. 6 Gac
    October 30, 2008 at 4:48 am

    Nanti nyari dulu saya bukunya nara, jd tertarik posting kalo uda paham divergen betul. Oke gramed kan? sip sip. oya, nara punya ym/msn?

  7. 7 nara
    November 1, 2008 at 1:03 am

    2 So In
    Hahaha, judul memang suka asal ga bisa mewakili isinya walaupun seharusnya begitu. Susah mikirin apa judul yang tepat.

    2 Gac
    Divergen itu permasalahan matematika tapi fisika mereduksinya biar bisa dipakai. Saya sendiri tidak begitu paham tapi ketika menemui persoalan seperti itu solusi divergen biasanya diabaikan. Ga cuma divergen yang diperlakukan seperti ini. Ada juga solusi trivial dan non-trivial. Kemarin ada workshop oleh profesor dari Osaka University. Disana baru saya ngerti kenapa sebuah persamaan hamiltonian (mekanika kuantum) harus memenuhi syarat komutatif. Sama saja idenya agar tidak terdapat hasil yang imajiner tapi real.

  8. 8 Gac
    November 1, 2008 at 3:00 am

    nara…
    apa membaca fritjof capra… the tao of physics?

  9. 9 nara
    November 1, 2008 at 3:39 am

    Ya, sudah lama, kenapa? Oh ya lupa ym saya dark_knightn4r4@yahoo.com

  10. November 4, 2008 at 11:08 pm

    iya saya lagi baca sih sebenernya, nara.. mencoba memahami satu per satu… hehehehehe :D


Leave a Reply