Ya ampun, nyaris setengah bulan tidak ada inspirasi untuk menulis. Memutuskan istirahat setelah revisi skripsi, karena jenuh setiap hari menulis dan menulis, ternyata membuat males yang keterusan. Membaca pun males. Akhirnya sadar koq tiap hari terasa membosankan dan tidak ada kemajuan yang berarti. Hingga saya ingat dengan buku “Berani Berekspresi” karya Susan Shaughnessy yang isinya meditasi atau saran-saran untuk penulis dari penulis-penulis terkenal yang sebagian besar tidak saya kenal. Kubuka halamannya secara acak. Pada halaman 190 berjudul “Menyerap Pengaruh” dimulai dengan kutipan:
Sebelum mulai menulis sebuah novel, saya membaca Candide sekali lagi agar dalam pikiran saya terpatri kembali ukuran kelugasan, keanggunan, dan kecerdasan itu.
W. Somerset Maugham
Bagi yang buntu nulis resep ini mungkin bermanfaat. Dengan membaca dulu tulisan yang bagus dengan tidak sadar kita menyimpan sebagian cara menuangkan tulisan darinya. Ini bukan plagiarisme tapi seperti belajar dari contoh. Kira-kira sama seperti ketika kita sering melihat cara orang berekspresi, misalnya sering melihat ortu kita marah maka jika kita tidak sadar kemungkinan besar cara marah kita mirip dengan ortu. Tips yang mirip tentang ini mungkin yang ditulis oleh Atanu Dey
The best way to learn how to write is to read good writing. It has to be deliberate reading. Not the kind of reading one does when one is hurrying through the daily news. It has to be the slow, methodical, reflective, questioning type of reading that is like having a conversation with the author.
Hm, jadi agak sulit juga karena terbiasa membaca cepat seperti yang diajarkan dikuliah. Apa bedanya ya? Hmm, membaca cepat mungkin berguna untuk mencari informasi dan memilih-milih jurnal yang seabrek. Tapi untuk membaca yang bersifat renungan sepertinya tidak bisa tergesa-gesa seperti itu. Merepetisi di otak dan mencari pertanyan yang tepat belum tentu bisa dalam sesaat. Apalagi kalau buntu tidak ngerti-ngerti apa maksudnya, meninggalkannya kadang baik juga hingga membaca atau mengalami sesuatu yang bisa didebatkan dengannya. Dan ini bisa butuh waktu berhari-hari kalau kebetulan sadar.
Sebenarnya saya nulis apa sih? Saya pikir sedikit diskusi dengan buku yang saya baca perlu dituangkan disini sejak otak masih tumpul kayak sekarang. Semoga tidak menjadi tulisan nyampah. Kalaupun iya, serahkan saja sama pembaca karena dari sampahpun ada yang bisa didaur ulang hingga menjadi sesuatu yang berguna.
Lalu di halaman 191 dari bukunya Susan yang berjudul “Metode” berisi kutipan yang panjang bikin males ngetiknya. Yang jelas isinya tentang menetapkan sasaran untuk menulis sekian halaman atau kata setiap hari. Setiap hari?? Waduh, mandi saja ga tiap hari gimana menulis. Tapi saran utamanya adalah agar menyesuaikan berbagai pendekatan sampai menemukan metode yang paling tepat untuk diri sendiri. Yah, itulah awalnya rencana saya menulis di blog: meraba-raba metode menulis. Makanya di blog ini cara penulisannya kadang ga konsisten dan ga jelas.
Kepikiran juga apakah metode saya sudah tepat. Untuk siapakah saya menulis? Ketika saya menulis tentang “pendidikan” apakah ada guru atau orang tua yang saya sasar membacanya? Atau hanya dibaca mereka yang sebenarnya lebih mengerti dari saya? Mereka yang sama intelek atau bahkan lebih berpengalaman dari saya? Kenapa akhirnya saya rasa media ini paling tepat jika menjadi tempat diskusi dengan diri sendiri?

0 Responses to “Belajar Nulis”