Sewaktu SD dulu saya ingat selalu dipaksa mengarang oleh guru. Mengarang yang benar-benar mengarang. Menuliskan apa yang tidak pernah saya alami. Syaratnya juga memberatkan buat saya: tulisan minimal satu halaman penuh kertas polio, harus rapat. Menggambar juga sama, disuruh gambar gunung dengan pola yang sama: Dua buah segitiga ditengahnya matahari mengintip sungai menjulur seperti lidah dari kaki gunung di kanan kirinya kotak-kotak sawah. Saya selalu mendapat nilai jelek dalam kedua mata pelajaran ini. Terutama mengarang yang sering kesulitan untuk menulis bahkan hanya satu paragraf. Kebiasaan ini masih terbawa sampai saat membuat laporan eksperimen. Saya terkenal irit menulis. Bila yang lain sanggup membuat laporan hingga sepuluh halaman saya cuma bisa dua. Bila ditanya selalu ngeles “Saya ga biasa banyak bacot”.
Ngapain saya ungkit ini? Saya baca di sebuah buku tapi lupa yang mana, sudah lama. Karena sekarang ada blog dituliskan saja disini. Buku ini menceritakan seorang anak yang protes terhadap gurunya yang memaksanya menggambar gunung. Anak itu tidak mau karena belum pernah melihat gunung. Guru itu memberi contoh_seperti yang saya gambar waktu tk hingga sd dulu. Ayahnya yang bijak tidak berusaha membela anaknya dengan memarahi si guru tidak juga menceramahi si anak. Si Ayah mengajak anaknya pergi untuk melihat sendiri gunung untuk digambar.
Apa yang saya pelajari dari hal ini? Pertama saya senang karena dulu saya tidak sepenuhnya salah (Yei…!!), tidak juga karena tidak berbakat. tapi apa dampaknya buat si kecil saya? perasaan rendah diri karena merasa tidak bisa melakukan apa yang orang lain bisa lakukan. Kedua, sekolah sering memaksa sehingga semua anak memiliki persepsi dan pola pikir yang sama. Kenapa tidak dibiarkan kita melihat sendiri gambar kehidupan dan menuangkannya dalam kertas gambar masing2 sesuai dengan persepsi sendiri.
Hal yang menarik lainnya adalah bagaimana seorang Richard Feynman dididik hingga mencintai science hingga menjadi seorang ilmuwan fisika yang cerdas tapi tetap jenaka. Ayahnya tidak membiarkan Feynman belajar science hanya dengan menghapal apa yang diajarkan disekolah. Dia mengajak Feynman mengamati sendiri misalnya kupu-kupu sambil mengajukan tantangan berupa pertanyaan bukan menjelaskan teorinya. Hasilnya seorang jenius yang selalu tertantang dalam berbagai hal bahkan memecahkan sendiri masalah pesawat Challenger, selain merusmuskan teori quantum elektrodinamik dan menerjemahkan tulisan bangsa Maya kuno.
Tantangan juga digunakan oleh seorang profesor di jepang. Seorang keturunan Indonesia-China yang saya lupa namanya, entah sumartono atau sudarsono, yang jelas ada “Su” nya tapi bukan sumanto atau suharto. Prof ini mengubah cara mengajarnya yang penuh teori karena mahasiswanya lebih banyak tidur di kelas dan membolos. Setelah diubah mahasiswa jadi lebih bersemangat belajar dan IP rata-rata mereka naik drastis. Saya baca di sebuah majalah jepang, lupa juga yang mana.
Dengan tantangan otak menjadi lebih aktif dan dengan pertanyaan kita mengarahkan belajar tanpa memaksakan teori yang tidak sanggup dipahami masuk ke otak. Lalu apa tantangan yang saya berikan dalam hal ini? Hahaha, hanya teori juga. Cari sendiri deh. Setelah menulis ini tiba-tiba saya jadi ingat kalau akhir-akhir ini saya terlalu pasif dan kurang tantangan. Saya bukan seorang pakar pendidikan juga tidak bercita-cita menjadi guru. Tapi saya sering memikirkan jika seandainya saya jadi orang tua bagaimana sebaiknya saya mendidik anak saya. Juga sedang mencari metode belajar yang lebih baik buat diri sendiri. Jadi semoga ini berguna juga buat setiap orang.

yahhhh, kok gambarnya mirip saya SD yah???
kalo di jogja, 2 gunung itu menggambarkan merapi dan merbabu yang bersandingan..
tulisannya bagus dan menginspirasi. kalo sekarang saya mau menulis seperti ini saya tidak bisa lagi. inspirasi saya lagi macet, dan saya tidak mau memaksakan diri sendiri untuk menulis, karena pada akhirnya hal yang di paksakan akan sama dengan sampah(dalam bhs kasarnya). karena tertarik dengan fotografi maka blog saya cuma berisi foto-foto yang saya jepret dengan kamera biasa(yg seadanya). keep writing. salute for u. salam kenal juga
Memang ga usah dipaksain sih, saya juga cuma mengingat apa yang saya pelajari dulu. Kalau sekarang perkembangan otak lagi mandek nih, entah karena pengetahuan yang terlalu deras mengalir melalui rangkaian kata-kata yang justru bikin sumpek pikiran (hard disk otak saya kali yang kurang ya). Makanya blog foto kamu saya pikir ide yang bagus buat ngimbanginnya.
Eh nara, hehehe kalau mo melihat-lihat monggo ke majalah saya : jong arsitek, ada di blogroll saya tag magazine ,hehe selamat menikmati muga berguna
saya sdh baca emailnya, it will take some time to reply, nanti saya usahakan secepatnya naraaa, yg sabar ya hehe
Oke,santai saja ini sudah biasa koq, udah biasa bersabar selama bertahun-tahun. Udah untung ada yang denger. Bales ke email ya, jangan disini. Thanks Gac
salam kenal…
emang iya sih, kayaknya bykan pendidikan formal lebih memfokuskan penggunaan otak kiri. akibatnya banyak anak2 jadi mati kreatifitas. seperti pada film i’m not stupid..
g sendiri ga tahan banget di jejalin teori mulu. seperti kuliah d itb sekarang, walau ada praktikumnya, tapi selain waktu terbatas, prosesnya itu benar2 buat stres. mana laporannya deadlinenya 1 hari lagi…
jadinya banyak mahasiswa yg jd males…
g bahkan bertanya-tanya apa kuliah itu penting???
g jd kurang fokus k kuliahnya, lebih enjoy d kmb (keluarga mahasiswa buddhis), ikut acaranya, baksos,dll…
tapi tulisan ini benar2 menginspirasi deh.. thx y..
Salam kenal juga…
Ya, di ITB memang konsep mengajarnya ga fokus hanya menjejalkan teori tanpa tahu untuk apa. Dosen pembimbing saya juga mengakui itu. Makanya banyak anak ITB yang ip-nya jelek bahkan drop out. Belajar malah bikin mati rasa karena kita digenjot seperti robot. Bukannya mengubah metode mengajar malah aturan sekarang diperketat dengan membatasi lama kuliah.
Lucunya cerita yang tentang profesor di jepang saya dapat dari majalah di perpus pusat ITB. Apa ga ada dosen yang baca ya? Solusi dekat gitu
Btw, karena anak KMB mau nanya nih, warung makanan vegetarian di bandung dimana ya? kapan ada meditasi gratis lagi?
Thanks juga udah mampir dan ngasi komen
Restoran vg d bdg yg g tau cm ahimsa, dan kantin vg vihara maitreya datu d jalan kebon sirih 21.
Meditation Workshop diadakan tanggal 14-16 november. Ikut y. Tema tahun ini meditasi relaksasi pikiran.
Oke, moga aja waktu itu saya di bandung. Thanks atas infonya. Oh ya, kamu punya blog juga?
oh, g br buat blog sih, tp ntar aj lah y g kabarin lg.. masih kosong T_T
kalo udah lumayan g isi br g britau^^,
btw ingat ga nama majalah ttg prof d jepang itu?
di perpus pusat lantai berapa? bagian mana?
jadi pengen baca nih^^,
thx..
Nah itu dia, ga inget. Kalau ga salah japan close up. Di lantai 3 ruang majalah karena udah lama mungkin di simpan di tempat lain. Pernah sy cari lagi tapi ga ketemu. Coba aja tanya petugas majalah lama disimpan dimana.