Selama beberapa hari saya digenjot untuk menyelesikan TA secepatnya. Mengejar deadline dengan banyak pertanyaan masih berputar-putar di kepala. Ingin cepat lulus tapi merasa kemampuan masih belum cukup. Jalan di depan terasa gelap tidak tahu akan sampai atau tidak. Sampai saat terakhir masih belum bisa memutuskan apa akan maju untuk sidang atau tidak jadi kerjakan saja tidak usah memikirkan apapun didepan biarkan waktu yang nentuin.
Tulisan saya diperiksa oleh dosen pembimbing, dikoreksi susunan penulisan dan pilihan kata-katanya dan ternyata banyak sekali yang harus diubah. Setelah diubah sesuai saran dosen memang tulisan itu menjadi lebih runut dan enak dibaca tapi saya menjadi rendah diri, ternyata saya masih jauh dari yang namanya bisa menulis dengan baik. Dulu sih mikirnya masih pemula tapi sekarang rasanya pemulapun belum, lantas apa donk?
Sesaat sebelum sidang, badan terasa lemas. Otak kosong. Tidak tahu apa yang akan terjadi. Latihan presentasi saja baru tadi pagi, bikin slide baru tadi malam yang menyebabkan salah copas grafik data dimana data yang sama dimasukkan dua kali dalam kategori berbeda. Pada saat sidang baru dosen penguji yang menyadarkan dan saya hanya bisa ketawa dalam hati karena kebodohan sendiri.
Semua serba mendesak. Ada rasa takut akan dibantai dengan berbagai pertanyaan trus cuma bisa bengong seperti biasanya. Mencoba menenangkan diri membongkar isi library di kepala mengingat berbagai bacaan atau tontonan yang memotivasi. Akhirnya yang diingat adalah sebuah petuah samurai: “Maju ke medan pertempuran untuk mati”. Membuat saya merubah cara pikir, tidak lagi memikirkan malu atau kesempurnaan, lebih pasrah dan mempersiapkan diri untuk menunjukkan kebodohan di depan dosen bahkan kemungkinan terburuk tidak lulus dan mengulang pada sidang berikutnya bulan februari tahun depan. Melakukan kesalahan, terlihat bodoh dan kegagalan seperti bukan masalah lagi. Perasaan jadi tenang dan lebih terfokus untuk menjalani tiap detik waktu yang tersisa. Tidak lagi terfokus pada hasil tapi membayangkannya sebagai medan latihan wawasan dan mental. Akhirnya memang waktu sidang jadi lebih tenang bahkan kebiasaan buruk terlalu banyak diam mengingat sambil bilang “aaaaaaaaa” tidak begitu nampak. Setiap pertanyaan jadi bisa dijawab dengan baik tapi belum tentu benar. Yang penting diskusi lancar dan otak tidak pernah blank selama presentasi.
Beginilah akibatnya kalau masih pakai metode sks (sistem kebut seminggu), sampai sekarang koq masih belum bisa diubah ya. Kalau belum deadline rasanya energi ga punya. Saran sebuah artikel untuk melepaskan api motivasi yang kadang membara kadang padam dan membangun sebuah baseline harian belum berjalan dengan baik. Membangun baseline maksudnya membiasakan diri setiap hari melakukan sesuatu sebagai batas minimal, misalnya targetkan mengerjakan TA satu halaman tiap hari. Sedikit-sedikit lama-lama jadi buku.
Satu lagi pikiran yang membuat saya memutuskan kenapa maju sidang walaupun merasa tidak siap: Biarkan orang lain yang menilai bukan diri sendiri. Apalagi dosen lebih tau apa kita sudah pantas lulus atau belum. Menilai diri sendiri rasanya tidak akan pernah puas, selalu ada keraguan. Seperti ketika mencoba mendekati pasangan selalu ada pikiran “Apa saya pantas buat dia”, lebih baik biarkan si target yang menilai daripada jadi melo padahal belum tentu benar. Jadi sebenarnya saya harus berterima kasih juga sama komik “Salad Days” yang mengajarkan ini. Saya baca disela-sela menulis TA untuk menurunkan tegangan dan otak yang mau meledak.

tapi akhirnya berkasil kan…
dan kita ber 3 di tinggalin…
hehehehe…:)
Akhirnya Novi ngasi komen lagi, hehehe
Sori Vi, udah kebelet nih. Semangat ya ngejar maretnya biar bisa jalan-jalan ke pangandaran secepatnya