Nonton film ini saya ga begitu mengerti maksudnya apa. Tentang seorang biksu yang telah mengalami meditasi dalam waktu lama kemudian kembali ke vihara. Namun ketika melihat buah dada seorang ibu yang sedang menyusui anaknya nafsu kembali muncul. Lalu bertemu seorang gadis di desa dan jatuh cinta. memutuskan menanggalkan kebiksuannya untuk menikah dengan gadis itu. Selama hidup bersama petani dia melihat berbagai masalah sosial seperti penipuan dalam berdagang dan kesewenangan oleh orang yang lebih kuat. Protesnya membuat dia malah dihajar dan mengakibatkan penduduk desa semakin menderita. Dalam kebingungan entah kenapa dia memutuskan untuk kembali menjadi biksu.
Setelah saya menonton saya pikir cerita ini hanya asal bercerita tentang perjalan seorang biksu. Menurut saya biksu itu seperti mencoba lari dari kehidupan, meninggalkan anak dan istri karena di biara terasa lebih nyaman bagi dia. Dia tidak kuat merasakan penderitaan seperti yang dialami penduduk desa. Tidak sama seperti Sidharta Gautama yang tidak mengalami penderitaan langsung tapi merasakan penderitaan yang dialami orang disekitarnya.
Akhir-akhir ini kepikiran lagi apakah pesan moral film ini. Apakah menyampaikan bahwa tidak ada gunanya meditasi jika hanya dengan mendengar ajaran Buddha. Karena setelah biksu ini mengalami sendiri apa artinya penderitaan duniawi baru dia bisa mendapatkan pencerahan sejati. Ini mengacu pada konsep meditasi yang saya baca bahwa meditasi itu konsep utamanya adalah mengalami sendiri bukan mambaca teori meditasi. Seperti kita tidak akan benar-benar mengerti bagaimana nikmatnya sukses jika tidak pernah merasakan kegagalan.
Lalu mana yang benar mengenai biksu ini. Sadar ataukah lari dari kenyataan?

I found your site on technorati and read a few of your other posts. Keep up the good work. I just added your RSS feed to my Google News Reader. Looking forward to reading more from you down the road!
film india bukan sih?
@Rick Boyer
Hi Rick, do you speak Bahasa Indonesia? Btw, thanks for your comment
@Gac
Kalau ga salah tibet