28
Sep
08

apakah genius apakah sombong

Ada kesan kalau seorang fisikawan terutama yang menguasai mekanika kuantum biasanya orang yang sombong. Kenapa? Mentang-mentang mengerti hal-hal rumit tidak mau berbaur dengan yang lain. Sebelum menilai seperti itu coba dipikir lagi.

Kenapa ada orang yang menekuni ilmu tertentu seperti fisika, ekonomi, seni dan yang lainnya? Kita harus akui bagaimanapun beberapa orang dididik dengan cara berbeda dan memiliki cara berbeda untuk menanggapi bagaimana lingkungan mendidiknya hingga memilih jalan hidup yang berbeda. Memang sulit dipahami karena kita berada dalam masyarakat yang menyamakan diri agar diterima oleh kebanyakan orang. Tapi tidak semua bisa melakukan hal yang terlihat simpel di mata orang lain. Bagi sebagian orang bergaul adalah hal yang tersulit untuk dipelajari. Mungkin bagi anda gampang tapi tidak bagi yang lain. Orang fisika terutama teoritis adalah orang yang berkembang dalam kesendirian yang menganggap dunia luar tidak lebih menarik tapi lebih rumit daripada fisika. Einstein belajar fisika untuk lari dari kehidupan yang membosankan dan tidak masuk akal baginya. Mungkin bagi orang non fisika ilmuwan adalah orang-orang jenius hingga menanyakan kenapa tidak menggunakan daya pikir mereka untuk perkara sosial ekonomi? Einstein pernah mengatakan bahwa ilmu ekonomi terlalu sulit baginya. Feynman pun pernah mengatakan kalau ilmu sosial terlalu kompleks jika dibandingkan dengan fisika. Jadi jangan salahkan mereka yang tidak mengerti bagaimana caranya bergaul seperti orang kebanyakan dan kalian boleh berbangga karena kalian ternyata lebih jenius dari mereka karena itu. Einstein kadang bisa berwacana dalam bidang sosial tapi hanya sebatas itu, untuk bertindak masih jauh dari yang dia mampu.

Sedikit curhat, daripada belajar fisika saya lebih banyak belajar ilmu filsafat, sosial, bisnis dan cara bergaul selama kuliah. Tapi semakin saya belajar dan mencoba semakin saya tidak mengerti dan semakin jauh saya terperosok dalam hidup yang terlihat sombong bagi orang luar. Saya tidak bisa berbuat lebih banyak lagi hingga sepatah kata membuat saya sadar bahwa lebih baik saya berkutat pada apa yang menjadi kelebihan saya daripada mengurusi kekurangan saya. Selain karena akhirnya saya makin keteteran dalam bidang yang ditekuni malah makin tidak mengerti dengan yang namanya bergaul. Ketika sudah dewasa merubah kepribadian sangat sulit kecuali dengan memalsukan diri sendiri atau mencuci otak dan memrogram ulang kepribadian.

Masih beranggapan kalau orang yang mengerti mekanika kuantum orang yang sombong? Perlu diketahui kalau ilmu ekonomi dan sosial sudah masuk dalam fisika sistem kompleks dengan variabel non linear yang rumit. Artinya econophysics maupun sosiophysics adalah ilmu fisika tingkat tinggi jauh lebih rumit dari mekanika kuantum. Lalu tanyakan apa ilmu sosial dan ekonomi yang kalian pelajari benar-benar sudah dikuasai dengan benar. Mekanika kuantum ternyata menjadi pelajaran dasar yang harus dipelajari para pemimpin di negara barat, ahli ekonomi dan sosial beberapa universitas disana diwajibkan menguasai mektum sebelum melangkah lebih jauh. Karena itu sekali lagi saya akui kalau kalian ternyata jauh lebih pintar dari para fisikawan.

Pernah juga seorang teman merisaukan kenapa mahasiswa ITB di cap sombong bagi orang luar. Pertama, orang luar terlalu banyak berprasangka dan terlalu sibuk ngurusin orang lain padahal belum becus ngurusin diri sendiri. Kedua, dia mengatakan dia tidak bisa seperti yang lain diam kosong tidak melakukan apa-apa. Sebagian besar mahasiswa disini memang tidak bisa diam, harus ada sesuatu yang dikerjakan, sesuatu yang membuat otak mereka berkerja. Entah main game, belajar, nonton, baca atau apapunlah. Mungkin ini yang menyebabkan kenapa kami berbeda. Daripada meminta (hobinya koq minta-minta ya) kami menjadi seperti kalian kenapa tidak kalian berusaha hingga bisa nyambung dengan kami. Sekali lagi ini masalah budaya dalam diri masing-masing, kenapa kita tidak saling menghargai? toh kami tidak mengganggu kecuali kalian terganggu karena kesensitifan kalian dan saya tidak bisa menyalahkan kalian karena itu. Siapa yang menilai anak ITB terlalu tinggi? Toh orang luar termasuk para orang tua mahasiswa. La wong mahasiswanya biasa2 aja malah stress melulu dengan beban yang begitu besar akhirnya IP anjlok trus gila, malah ada yang bunuh diri setelah lulus.


16 Responses to “apakah genius apakah sombong”


  1. September 28, 2008 at 8:36 pm

    wow..baru denger malah ada yang nganggep anak ITB sombong. ck ck ck.
    setahu saya anak ITB tuh pinter,
    dan gak ada masalah dengan kepintaran mereka
    that’s it :)

  2. 2 nara
    September 28, 2008 at 11:53 pm

    Duh makasih(naon sih!!) Bagi masyarakat yang pandangannya ga up to date ya masih kayak gitu. Padahal sama saja dengan PT lain. Malahan katanya lulusan ITB tidak jadi prioritas lagi jika ikut seleksi kerja. Denger2 terkenal karena ga setia sama perusahaan n ga bisa berorganisasi. Tinggal nama doank, hahaha.

  3. 3 Gac
    September 29, 2008 at 2:01 am

    Hihihi anyway saya tu jg ga mengerti sama ekonomi. bukannya apriori ya tapi ekonomi dan politik (dlm hal ini sosial) urutannya jauh sekali jika ada list tentang kesenangan2 saya :)
    ekonomi itu matematika terbalik, matematika yang dibalik atau dimentahkan? heheheh ngga tau juga, kayak ekonomi banking apalagi, administrasi dan manajemen ya situ situ duh pusingnyaaa, gak bisa bayangin betapa ribetnya orang lulusan ekonomi dan sospol atau hukum yang jumlahnya ribuan itu buat berkompetisi nyari kerja… hahaha kalo sdh gitu, pusing mereka. mana ada yg ngeliat kalau msh songong aja?
    Oh si nara ini anak ITB! Ckckckck fisikawan pula! ckckck proud of u, sir! dulu saya suka banget fisika..karna nggak jauh jauh dari filsafat, dan konsep hitungan rumusnya yang sederhana..
    dulu matematik saya jago banget tp begitu kuliah kok anjlok ya mekanika teknik nya?hahaha… pdhal itu kul cuma ngulang aja prinsip kesetimbangan kok bego ya saya skg?ga ngerti jg.apa karna sering maen maen?saya pernah di sma kelas 3 nilai matematik anjlok drastis (gara2 pacaran haha *alesan*) dan bisa merasakan bahwa my dear teacher amat sangat kecewa..wah itu penyesalannya gak ampun ampun. bukan merasa dispesialkan…tapi math is a big thing in my family, and my study. :) dulu pas belajar mat dari sd saya udah ditemenin papa karna dia jenius parah..sampe nangis2 kalo salah atau gak teliti atau lupa rumus dimarahin & dibentak pula *hiks* nasib anak2 berotak kiri dominan memang aneh ya kadang2. saya juga susah bergaul *hihihi*
    Komen apa curhat?

  4. 4 nara
    September 29, 2008 at 9:24 am

    Biasa aja atuh gac, bukan masalah Institusi atau jurusan tergantung orangnya juga. Btw, kirain udah tau habis pernah nanyain artikel fisika. Hahaha, saya juga pernah anjlok nilai pas kelas dua smu gara2 pacaran juga. Tapi kekecewaan yang lebih saya inget malah sepak bola bukan akademik. Karena males latihan trus ga maksimal di kompetisi kalah deh di final.

    Jadi deh curhat-curhatan

  5. 5 Gac
    September 29, 2008 at 12:17 pm

    Heheheheh tapi emang anak ITB ya kan? fisika ya kaaan? Narsis itu perlu jek, sombong boleh dong kadang2 hahaha kwakakakakakakkk bolehlah besok main2 ITB..kmrn ada pameran biro arsitek behnisch arkitekten di ITB rencana mo dtg tp batal hekekekekekkkk

  6. 6 nara
    September 29, 2008 at 3:53 pm

    Ya ya ya. Mang klo ngaku ITB narsis, sombong? Tergantung yang nanggepin sih.Jadi susah deh bilang “Saya kuliah di ITB” yang denger langsung mikir “wah orang pinter” atau apalah. jadi beban dah kalau kayak gitu, padahal anak ITB punya masalah sama pede. Lah koq bisa ya? Ini ngeblog juga salah satu manfaatnya ya buat naikin pede dalam mengeluarkan isi hati.

  7. 7 Julian Chang
    October 8, 2008 at 9:37 pm

    oh my god… jadi saya lg baca blog senior g toh.

    Salam kenal..

    Saya juliyanto el’07 asal dari riau.

    btw koko akt brp sih? ga pernah kliatan d kmb.

    yup, g setuju untuk tidak mencap anak itb sbg anak pinter, jenius, dll.
    beban dipundak lumayan berat kalo gt. semua manusia kan memiliki kelebihan dan kekurangan masing2.

  8. 8 nara
    October 8, 2008 at 11:46 pm

    Bukan kmb, ikut kmh cuma tidak aktif juga. Saya nara Fi’03 dari Bali. Wah angkatan baru toh, selamat menderita di kampus tercinta, hehehe becanda.

  9. 9 ikan_ikan
    October 9, 2008 at 7:48 am

    nara, jangan sembarang nakutin2 adik wa yah. masak di bilang menderita di kampus ITB. julian lagi bete di jurusannya tuh dan lagi bete ama kampusnya. :) tapi kita temanan yah, kamu kan anak fisika dan wa anak matematika. ampun…. jurusan kayak gini. btw, wa uda add kamu di fs. ntar bisa di approve

  10. 10 nara
    October 9, 2008 at 12:22 pm

    Wah adiknya toh, sori klo gitu. Lagian menderita atau ga tergantung gimana kita nanggepin. Toh banyak juga sekarang anak ITB yang happy2 aja (kelihatannya sih begitu, tapi ga tau isi hatinya). Denger kata menderita seharusnya seneng dong, artinya bakal banyak tantangan dan makin terasah mental kita menghadapi masalah. :-)

    Anggap aja kampus tempat latihan sebelum menghadapi realita setelah lulus. Kata buku-buku motivasi sih orang sukses sebenarnya orang yang berkali-kali gagal (Klo gitu perusahaan yang besar seharusnya lihat ciri lulusan yang bagus bukan cuma dari tinggi rendahnya IP tapi pergerakan IP-nya ya. Klo gradiennya positif kan artinya tuh orang bisa belajar dari kesalahan dan memperbaikinya). Jadi klo kita berkali-kali menderita dan berhasil melaluinya lantas siapa coba yang lebih mengerti gimana rasanya bahagia? :P

    Oke, udah di approve. Thanks

  11. 11 ikan_ikan
    October 9, 2008 at 4:25 pm

    hahhahha bercanda tuh, jangan serius. dia adik sepupu wa lah. benar kata kamu, harus banyak menderita baru jadi mental baja. thanks ya for aprrove nya.

  12. 12 nara
    October 9, 2008 at 7:49 pm

    Hahahaha, takut aja nanti malah ada yang mengundurkan diri karena dibilang gitu. Saya merasa bersalah entar, hahahaha

  13. 13 Julian Chang
    October 9, 2008 at 8:34 pm

    he3, puncak kecuekan akademik g emang pas d semester 2 sih. Pertama kali ip d bawah 3 T_T

    Tapi paling ga g hepi kok pny byk temen yg garing, yang membantu mengisi warna2 satu per satu kanvasku yg hampa.

    Ampe skrg emang pasti boring abis d kelas, tp g lebih suka mengingat momen2 d luar kelas bersama teman2.

    Together we’ll be stronger. Lonely is very painful..

  14. December 29, 2008 at 1:20 am

    haha, anak itb itu = Busung dada pas masuk gerbang almamater SMA nya. Tapi, Nunduk, menahan malu, tiarap, ketika masuk gerbang Ganesha, apalgi pas diliatin ma temen2nya yang dapet A

  15. 15 wawan
    April 29, 2009 at 9:17 pm

    saya sudah perhatikan bertahun-tahun bagaimana sikap manusia2 ITB dan hasilnya “SOMBONG” , Keberhasilanya bersimbiosis dengan kampus sehingga dikepalanya tuh di cap stempel ITB bikin congkak. Padahal orang yang pinter tu seperti padi: semakin berisi semakin menunduk

  16. 16 nara
    June 16, 2009 at 11:27 pm

    Thanks Wawan atas komennya, maaf juga karena lama baru saya approve karena baru sekarang terpikir untuk menghapus bagian akhir dari komen kamu karena saya rasa kurang memberi manfaat lebih dengan umpatan2 seperti itu. Karena itu yang tampil disini bagian yang saya anggap bisa menjadi masukan dan memberi manfaat.

    Mengenai sombong saya rasa bukan itu permasalahan utama mahasiswa ITB walaupun mungkin ada beberapa yang memang begitu. Satu hal yang menjadi topik masalah adalah sifat yang keras kepala, merasa benar sendiri dan kurang toleran jika ada yang tidak sepaham. Ini akan menjadi masalah jika dikaitkan ke dunia kerja atau sosial yang memerlukan kerja sama tim.


Leave a Reply