Menarik juga baca berbagai alasan orang menjadi vegetarian, seperti untuk kesehatan, diet dan kepedulian pada lingkungan dan lain2. Itu menjadi nilai tambah buat saya. Saya sendiri memiliki alasan lain menjalaninya. Mungkin bisa jadi referensi bagi yang mempertimbangkan menjalani pola hidup vegetarian. Saya sendiri tidak ikut aliran kepercayaan apapun jadi jangan melihat ini sebagai suatu bentuk konversi atau apapunlah namanya. Cuma berbagi pengalaman.
Hal pertama yang menyadarkan untuk hidup vegetarian adalah buku “Jalur Tua Awan Putih” yang menceritakan tentang perjalanan Sidharta Gautama mencari pencerahan. Disitu diceritakan kalau pada tahap meditasi tertentu kita akan melihat diri kita di masa lalu. Sidharta melihat dirinya dalam tubuh seekor kijang, mirip seperti film kera sakti dulu. Artinya dalam tubuh binatang terdapat jiwa yang sama mengisi tubuh manusia.
Terdengar tidak masuk akal, but who knows?!
Terlepas dari apakah ini benar atau tidak, karena saya sendiri belum mengalaminya sendiri (meditasi aja cuma tahan sekian menit), maka saya hanya bergulat pada kemungkinan2 bila keputusan tidak bertemu kebenarannya. Pertama, jika saya tetap menyakiti binatang bahkan memakannya lalu ternyata hal ini benar, akan timbul perasaan bersalah di kemudian hari. Kedua, jika saya jadi vegetarian lalu ternyata hal ini salah, resikonya saya jadi lebih sehat dan berumur lebih panjang sehingga lebih lama merasakan penderitaan dunia.
Kalau tidak salah Anand Krishna (maaf jikalau bukan Anda) pernah menulis di salah satu bukunya, saya lupa yang mana. Tubuh itu diibaratkan komputer dan software. Software yang sama, yang terpintar dan terlengkap apabila di install pada dua komputer yang berbeda. Satunya komputer jadul dan satunya lagi yang tercanggih. Maka komputer jadul tidak akan bisa mengikuti semua perintah yang ada di software. Bisa jadi mengeluarkan suara aneh bin ajaib karena sound card nya berbeda dari komputer tercanggih atau ngehang ketika menekan enter karena kemampuan berpikirnya berbeda jauh.
Menyakitkankah kalau itu benar? Jika kita bicara dengan ego saya rasa “Ya”. Terdengar seperti saya mengatakan “Dasar anjing!!” atau “Monyet Lu!!”. Tapi nyatanya kita bisa berperilaku lebih rendah daripada binatang. Mungkin binatang juga marah jika saling mengatai “manusia lu!!”(dalam bahasa binatang) klo ada.
Pertanyaan paling sering dari teman: “Bukankah tumbuhan juga makhluk hidup?” Ya. Tapi kalau tidak makan nasi lalu saya harus makan apa? Saya pikir asalkan berusaha seminimal mungkin dan seperlunya saja membunuh mereka itu masih lebih baik, bahkan lebih baik lagi jika makan buah atau biji2an yang telah lepas dari pohonnya. Bukan berarti tingkat saya sudah setinggi itu, masih jauh euy. Masih tahap tidak makan daging tapi masih makan telor dan minum cucu.
Efek tidak menyenangkan dari perubahan ini juga ada. Pada saat otonan (upacara hari lahir berdasarkan kalender Bali) saya menolak memakai kurban binatang hingga harus berdiskusi dengan pedanda, untung pedandanya bukan tukang maksa. Akhirnya ibu mengalah dan hanya membuat banten seadanya.
Ibu membandingkan saya dengan Pedanda Gunung yang juga vegetarian tapi tetap memakai kurban binatang dalam upacara yang dipimpinnya. Saya jawab “Itu kan Pedanda Gunung, klo saya beda memang kenapa? Masa saya harus nurut gitu saja karena Beliau tokoh terkenal”. Pernah juga ibu mengutip ucapan Pedanda Gunung: “Membunuh boleh asal tidak karena pengaruh amarah atau benci”, lalu saya tanya “Bagaimana dengan psikopat seperti Michael Meyer (Halloween) misalnya? Bukankah psikopat membunuh tanpa emosi, tanpa alasan apapun, hanya membunuh, membunuh sudah menjadi cara hidupnya”.
Agama sy juga mengatakan kalau binatang yang dikurbankan mendapat keuntungan karena jiwanya dinaikkan tingkatnya. Kalau benar begitu menggunakan saya sebagai kurban lebih menguntungkan. Ibu yang mengorbankan anak yang disayanginya bukankah lebih terlihat baktinya kepada Tuhan dan jiwa saya akan naik setingkat atau mungkin langsung moksa. Kalau berkurban ayam cuma berkorban duit, setelah itu juga dimakan. Tidak rugi apapun di kita. Kalau tidak yakin dengan apa yang saya katakan berarti tidak sepenuhnya yakin dengan makna kurban itu. Atau itu cuma simbol saja? Karena yang saya pahami binatang yang seharusnya dikurbankan adalah sifat binatang yang ada di dalam diri sendiri. Memakai simbol tanpa memaknainya adalah kebohongan yang paling parah menurut saya karena melakukannya didepan Yang Maha Tahu. Akhirnya harus ada yang dikritik, ya sudahlah…
Bulan puasa di Bandung juga menimbulkan kesulitan karena jarang ada warung makan buka. Ada yang buka tapi berdaging semua. Apalagi kalau sudah libur lebaran dan semua pedagang mudik. Nyari makan harus naik angkot nyaris keliling bandung, untungnya ketemu di stasiun kota tempat makan capcay dengan pemandangan tikus dan kecoa berkeliaran.
Tidak hanya hal ini mungkin yang mengawali langkah menjadi vegetarian. Saya lupa pertimbangan yang lain karena sudah menjalaninya selama empat tahun. Oh ya, satu lagi karena sejak kecil selalu dipaksa makan sayur karena ga bisa beli daging, lama2 jadi suka sama sayur so ninggalin makan daging bukan masalah. Toh, yang saya pikir enak dari masakan berdaging adalah bumbunya kecuali ikan laut bakar, oh tidak masih bikin ngiler kalau ngebayanginnya. Berrrrrr…….

Cik chindy pasti suka banget artikel ini! hehehe…
kendati ga mungkin dilakukan langsung, tapi saya senang dengan asas ini : mengapa kita sebaiknya makan sayur, buah2an..sederhana aja, bahwa abis kita makan buah misalnya kita buang bijinya ke tanah jadi secara tdk langsung kita ikut membantu persebarannya. sedangkan binatang tdk diciptakan untuk punya benih yg bs kita buang lalu tumbuh tunas baru.. makanya binatang bs punah..
di satu waktu nara, saya mikir bahwa menentukan pilihan macem itu memang butuh pemahanan tinggi.
entah kenapa saya jd mkn daging lg seminggu ini. di lingkungan kampus beneran gila bgt jarang yg jual murni sayur. yg ada sy hrs jalan jauh ke warteg tertentu yg sayur mereka dimasak terpisah dg udang atau apalah.. Sedih & ironis memang tp saya yakin suatu saat pasti bisa!
Semangat!
Semangat juga buat Gac. Saya juga sering ngalamin beli sayur ternyata dicampur sosis atau bakso, harus susah2 misahin dulu atau kalau ada teman saya kasikan saja trus saya beli lagi
hehehhee santai aja sih bro.
eh okay ni nanti saya email ke kamu ya…
moga2 nyampe. okay.
saya uda posting baru, silakan dibaca. thanks!
Whuaaa, Nara
congraaaat, congraaat (ucapan selamat dari semua makhluk lo;)
kerja api filosofi dalam diri yang ogah surut apalagi padam
Nara, boleh tidak artikel ini saya usulkan untuk dimuat di majalah info vege edisi 2? tapi mungkin karena melalui penyuntingan lb dulu, mgk ada bbrp bag yang diedit. jika Nara berkenan, kami akan kirimkan teks editannya dulu ke Nara. Bila disetujui barulah dimuat. tks sebelumnya ya
Silahkan saja kalau memang cocok dimuat, btw saya koq tidak pernah lihat di gramedia sini kalau ada majalah vege? Didistribusikan di bandung ga Mbak?
iya nih lagi urus isbnnya sementara masih intern ya, Nara saya kirimin pdf file untuk edisi 1 ya.oy, kalo jadi saya akan jadi pembicara di bandung tgl 12 okt ini, seminar ttg glob warm dan glob veg. info pasti akan saya kabari lagi ya..tks Nara
ampun deh wa baca artikel ini. keren abiss!!! sumpah.. saya seorang vegetaris juga. saya senang sama artikel ini soalnya ditulis bukan dari sudut pandang agama. walaupun saya mengenal vegetarian dari agama tertentu. tapi sampai akhirnya saya menyadari bahwa bervegetarian tidak haruslah berlandaskan agama. vegetarian itu adalah bahasa universal, dan tentunya dia bukan milik agama tertentu. saya punya beberapa teman kursus mandarin dari amerika, mereka tidak beragama tapi vegetarian. saya punya kesamaan pemikiran dengan mereka bahwa ketika kita mengkonsumsi daging kita sudah tidak sengaja membunuh teman2 dan saudara2 kita di afrika. berapa banyak biji2an, dan sumber daya lain yang dihabiskan untuk memberi makan ternak sedangkan saudara kita yang di afrika masih banyak yg mati kelaparan. sungguh ironis, memberi makan ternak hanya untuk memuaskan lidah kitayang panjangya berapa cm dan mengorbankan saudara kita yang kelaparan di afrika. kalo di tinjau dari masalah kesehatan dan lingkungan ga usah bilang lagi. udah dijamin. GO Veggie
Thanks, memang diusahakan sebisa mungkin dibaca semua orang. Biar tetap memegang prinsip universalitas. Kalau apa yang dibilang Buddha bener berarti mungkin juga kita memakan nenek moyang kita
Nara, saya ud di Bandung. besok, 16 nop acr seminar mulai jam 9pagi-selesai di kampung legok jl kolonel masturi no.99 (depan vipasana graha). boleh langsung datang gratis Nara. seminar’e tema besar’back to nature-go veg’