Pulang ke Bali. Bertemu keluarga, melepas rindu terutama pada adik2 yang masih kecil2. Lucu2, bikin pengen jadi anak kecil lagi, ga usah mikir yang tidak2, main aja teruuusss!! Kumpul bersama keluarga bertemu teman lama. Pemandangan Indah dan kota yang bersih menjadi alasan untuk pulang ke Bali. Tapi tidak udara panas yang menyengat.
Tidak juga dengan berbagai permasalahannya. Banyak sekali, membuat tidak betah ingin kabur lagi ke Bandung. Setiap naik mobil bersama keluarga selalu saja ada cerita menarik dan menggemaskan yang terjadi di seputar orang-orang Bali.
Tipu Menipu
Ibu dan paman yang sama2 berwirausaha selalu curhat berbagai hal. Terutama hal buruk yang dialami dalam bisnis. Misalnya seorang teman yang meminjam uang kepada mereka tapi tidak pernah mengembalikan. Si peminjam sering terlihat naik mobil dengan kacamata hitam, gaya seperti orang berduit, kaca jendela selalu dibuka. Banyak gaya tapi ga niat bayar hutang. Banyak sekali kejadian seperti ini. Mendengar cerita seperti ini saya dan adik yang sama2 kuliah di bandung cuma saling pandang geleng2 kepala seperti baru pertama kali ke bali.
Ada lagi penipuan yang tidak perlu terjadi. Seorang tamu yang datang ke salon ibu berhasil mengambil handphone yang ditaruh ngasal di meja depan. Ibu meninggalkannya untuk mengambil sesuatu di kamar. Waktu ditanya knp ga waspada, dijawabnya: “Nak bali soalne, kaden nak jujur”, Yaelah…, padahal udah sering ditipu sama orang bali tapi masih beranggapan kalau semua orang bali pasti jujur. Ga bisa ngomong apa2 lagi klo gitu. Bukan berarti tidak ada orang bali yang jujur ya, contohnya saya, hahahaha narasis bgt.
Perpecahan Kasta
Sudah biasa dengar kalau di bali perpecahan sering terjadi antar kasta. Biasanya antara kaum brahmana dengan yang lain. Pernah dengar juga kalau di sebuah desa kaum brahmana membuat banjar adat sendiri dan tidak mau bergaul lagi dengan dengan orang yang mereka anggap lebih rendah. Teman saya pernah bilang mereka antipati ma orang Brahmana, cueknya mereka ngomong di depan saya yang mereka tahu dari keluarga brahmana. Bukan masalah sih buat saya yang emang ga peduli begituan, klo ilmuwan tuh masuk mana ya?
Ironis sekali karena disisi lain bali terlihat damai, di kuta segala kesenangan tersedia, senyum orang bali masih tulus menyapa para turis. Tapi di sisi lain bali seperti goyah dan menuju perpecahan karena masalah intern yang tidak perlu. Mungkin perlu serangan dari luar untuk menyatukan orang bali kembali. Karena ada teori kalau orang melayu dasarnya butuh memiliki kesamaan identitas dan nasib untuk bersatu. Dan persamaan itu adalah sama2 orang bali. Jika tidak, akan selalu mencari perbedaan. Moga saja tidak perlu itu terjadi dulu.
Perseteruan antar saudara
Ini terjadi pada salah seorang yang dekat dengan saya. Saudara kandungnya yang tertua mengusir adik2nya termasuk dia dari rumah keluarga besar mereka. Saudara tertua ingin menguasai semua warisan tanah leluhur membiarkan adik2nya terlantar di kota lain. Cerita seperti ini tidak cuma satu. Ada yang menjual tanah leluhur untuk kepentingan sendiri. Menggadaikan sawah tanpa sepengetahuan nggota keluarga yang lain yang akhirnya ketahuan setelah hutang membengkak. Bahkan antar saudara saling bermusuhan seperti tidak ada lagi jalan keluar untuk berdamai.
Eksploitasi penyu bali
Perdagangan penyu di bali sangat marak, begitu kata berita. Yang saya lihat penjualan sate penyu memang laris manis. Untungnya ada sekelompok orang yang peduli dan berusaha melindungi kelestarian penyu bali. Dan itu adalah orang luar terutama orang barat. Ironis, ajaran ahimsa yang terkenal dalam agama hindu justru lebih ditunjukkan mereka, bukan orang bali yang telah diajarkan ahimsa sejak sekolah dasar yang tidak juga mau belajar dari orang barat ini. Yang jelas dari apa yang saya lihat disekitar, materi telah menjadi tujuan utama orang bali.
Pedanda Gunung pernah bilang, yang saya dengar dari Ibu, bahwa orang bali makin banyak yang memakai kamben dan udeng (aksesori adat yang melingkar di kepala) tapi tingkah lakunya justru makin menjauh dari ajaran Hindu.
Bosan dengan cerita2 negatif seperti ini saya berencana pergi ke pantai sanur, karena lumayan dekat dengan rumah. Eh, malah dengar cerita satu lagi. Di sanur pernah terjadi pembunuhan. Ceritanya ada dua sejoli memadu kasih di pantai. Datang seorang lelaki berperawakan besar membawa golok. Meminta rokok. Karena yang cowok tidak merokok lalu ia menawarkan uang untuk membelinya. Lelaki itu malah mengeluarkan goloknya dan mengayunkan ke arah pasangan itu. Yg cewek berhasil kabur tapi cowoknya mati ditebas, mungkin karena berusaha membuka kesempatan untuk ceweknya biar bisa kabur. Ada yang bisa melihat motif pembunuhan ini? Saya mengurungkan niat ke Sanur. Memang masih belum sekejam berita2 mutilasi yang lagi trend tapi kejadiannya lebih dekat dengan saya.

kurang atu lagi, perang preman!alias perang antar genk..duh berasa di pilem tembaktembakan aja dah
nara, that is sooo gila banget. gue udah jalan sekian tahun di bali as long as i can remember yaa… bali is the quitest place on earth. tapi rasanya punya kulit mulus tanpa scar itu nggak mungkin yaa.. selalu ada benturan yang membuat kita tersadar bahwa semakin banyak ragam sifat dan makhluk hidup dg cara berpikir yang beda-beda bikin kita belajar dari cara sebenar-benarnya. ngga perlu lagi liat buku kewarganegaraan kita musti tahu bahwa benar salah adalah proses. ngga mutlak ada di definisi satu orang atau satu point aja… my dad ever talked like this… “kita harus bersyukur ada orang jahat hidup di dunia ini, soalnya kalo mereka ngga ada… kita ngga bisa belajar” dan.. ada cerita lucu. orang2 baik dan jahat pada perang. lalu tinggalah orang jahat yang masih hidup seorang. pada waktunya si kerumunan orang baik ini mau ngebunuhin si satu2nya org jahat itu… orang jahat itu bilang “bunuh aja sekarang sekalian. kalau ngga ada saya… kalian bukan orang baik.” jadi… intinya apa… perang saudara, antarkasta… semua seperti pelajaran tak kasat mata untuk kita bedah dan kaji dari hati melalui pikiran… semua ada perbandingan. dan ukurannya sampai kiamat juga ngga jelas. inilah yang dinamakan sesuatu tanpa ukuran. yg kadang org suka memberi batasan tanpa tahu mananya yang diberi batas? aah ngalor ngidul.
gacantee
Quiet est mksd saya.
@ceritasenja
Masih banyak sih tapi males juga nyebutin semua
@Gac
Klo masuk komunitas dimana orang2nya masih berusaha untuk survive_biasanya karena harga diri_pasti ktemu hal yg beginian. Udah banyak koq buku2 yg cerita hal2 kyk gini, malah ada yg dilarang kembali ke kampung halamannya karena terlalu jujur membuka setiap hal2 yg dianggap aib.
Itu artinya orang baiknya cuma pengen dibilang baik ya? Ga ada yg jahat ya damai atau mungkin membosankan? Tidak ada lg istilah baik karena semua baik.
Mang susah mengharapkan semua jadi baik kecuali dengan cara yg diktator_tapi tidak pernah benar2 baik. Ada satu tempat dimana kebaikan bisa dicari karena masih dalam lingkaran pengaruh kita (Stephen Covey banget), yaitu diri sendiri.
Thanks udah ngalor-ngidul? komen kedua km justru bikin ga ngerti, apa est itu, dikamus koq ga ada ya?
Ngga itu istilah aja. di komen pertama ada quitest ini salah. mestinya quiet-est. paling diam. sunyi gitu.
iya ampe puyeng kita soal perang..
liat amerika sama afganistan atau manalah namanya..kdang cape sndiri..hare gene, apa yg jd ribut2 sih?
hah..ngga usa yg skala gede, perang melawan diri sndiri jg..
Oya, dpt email dr cik chindy?
Oooo……
Yg mana? Email berantai yg tentang “kebetulan” itu?
Iya tentang itu..menurut nara gimana?
eh btw, i invite you politely to comment my Tribute to Indonesian People by Ardi Rianbono.. artikelnya masuk ke pages di bwh about.. kiranya sudi memberi celotehan sepatah dua patah
@Gac
Karena ga tahu balas kemana jadi saya kirim ke email kamu. Taruh disini jd ga nyambung
Hm saya uda baca emailnya tapi nanti saya balasnya. Saya cuma mo bilang komentar ttg foto itu bs ga di copy paste oleh nara sendiri di tempat tulisan yg bersangkutan (blog saya gitu) hehe? nanti saya balas lewat email & lewat blog jadi semua org bs tau
thanks!
Kalau difikir Bali memang mengerikan dan bukan hanya sekarang , tahun 65 ( 43 tahun y.l.) lebih gawat lagi bunuh membunuh antar sesama sepertinya tidak ber Tuhan. Yah dimana mana dibelahan dunia ini sama rusaknya. Baiknya ga usah difikir karena mungkin itu proses alam semesta dari TIDAK ADA menjadi ADA dan TIDAK ADA lagi. Yang penting ELING dan WASPADA.
Sekarang ga begitu mengerikan koq. Untuk orang luar keamanan terjamin tapi masalah justru terjadi antar orang bali. Dipikir itu harus tapi sebagai cermin untuk diri sendiri sehingga sadar untuk tidak ikut seperti itu.