07
Aug
09

Antara aku, waktu dan sastra

Hari-hari berlalu dengan terlalu ambisius walaupun dalam kesadaran untuk tidak nyasar terlalu jauh dari prinsip. Namun kehilangan mood dan inspirasi membuatku memaksakan diri karena cemas oleh serpihan wantu yg terbuang percuma yg ingin aku pungut kembali. Seandainya ada ruang dengan gravitasi tinggi yang dapat membelokkan waktu seperti yang ada di serial dragon ball, biar satu tahun yg aku habiskan disana sama seperti satu jam di dunia nyata. Agar aku bisa berlatih dan berlatih untuk menyusun hidupku yang selalu tertunda. Mengejar umurku yang kian bertambah meninggalkan diriku dalam ketiadaan kompetensi.

Memulung masa lalu membuat kesadaran akan kekinian hilang bersembunyi dalam gelapnya masa depan yang belum pasti. Mulai lagi tidak menikmati setiap proses yang harus aku lalui, berkegiatan tapi pikiran dimana-mana. Kalut sehingga ide yang diharapkan datang rasanya kian jauh. Karena itu aku merasa telah kehilangan jalan. Jika tidak kunjung sadar masa kini akan menjadi serpihan yang tertinggal lagi seperti apa jadinya masa lalu. Aku ingat sebuah kutipan “Berusahalah terlalu keras maka kau akan kehilangan jalannya” dari buku Tao Pembelajaran yg saya lupa siapa penyusunnya. Saya merasa mulai sedikit mengerti maksudnya. Continue reading ‘Antara aku, waktu dan sastra’

29
Jul
09

menjadi lebih ilmiah dalam menanggapi informasi

Capek membaca berita yg lebih banyak isu dengan kebenaran yang belum utuh yang diplubikasikan begitu saja untuk mencari perhatian menghidupkan dunia jurnalis. Kita pun sibuk membahasnya hingga bahkan tidak memiliki waktu untuk memperhatikan hal yang lebih tepat untuk diperhatikan. Kita tidak bisa hanya menjadi penyerap berita, konsumen ilmu pengetahuan, hanya berpikir sebatas dugaan tanpa tindak lanjut pembuktian akan kebenarannya.

Akupun merasa sikap ilmiahku telah hilang. Sikap ini seharusnya dimiliki semua orang bukan hanya ilmuan. Ini tentang bagaimana bersikap mempertanyakan, mencari bukti, bereksperimen untuk membuktikan, menyampaikan untuk diperdebatkan lagi. Akhir-akhir ini aku begitu malas dan menerima saja setiap informasi yang masuk. Membaca beberapa blog yang berlabel science saya mempertanyakan lagi diri sendiri betapa tertinggal peradaban kita dibandingkan orang di luar sana. Hal ini dilihat dari kedalaman penyampaian terlepas dari benar atau salah yang menjadi tugas kita juga untuk mendebat isi dengan menunjukkan data dan hasil eksperimen yang ada.

Lalu apakah cukup jika data eksperimen hanya mengambil dari apa yang dilakukan orang lain? Pengalaman menyadarkan kalau terlalu banyak hasil direkayasa dan ilmuan juga manusia yang bisa salah dan juga memiliki kepentingan. Memandang negatif terhadap hasil keilmuan juga bukan solusi yang tepat karena tidak akan membawa kita kemana-mana malah terjebak sikap jago berkomentar, menaruh harapan pada hal diluar diri kita lalu lupa hingga sensasi berita mengingatkan lagi. Saya dan kebanyakan orang sering merasa puas dengan pandangan kita yang hanya dari satu sisi, tak mau didebat hingga hanya menghasilkan kebenaran yang setengah. Menyampaikan suatu pandangan merasa cukup dan mengabaikan yang lain, kebenaran sebatas nyaman yang sebenarnya membawa ketidaknyamanan. Continue reading ‘menjadi lebih ilmiah dalam menanggapi informasi’

17
Jun
09

Mempertanyakan kesetiaan

Status dari facebook seorang teman yang menyatakan: “Tak pernah sadar sebelumnya, aku tak setia pada apapun” mengingatkanku sewaktu di Bali kemarin. Ramai aku dengar cerita tentang perselingkuhan, pengkhianatan pada teman bahkan sesama keluarga. Ketika seorang teman wanita berkata kalau semua lelaki sama saja, pengkhianat, dengan sombong aku berkata: “loh jangan disamaratakan donk, saya belum pernah selingkuh selama punya pacar, jadi saya tipe lelaki yang setia dong!!”

Setelah beberapa minggu tiba-tiba saya ingat akan pelajaran agama yang dulu selalu saya catat tapi ternyata tidak dilaksanakan dengan benar (emang ada yang udah diterapkan? :P ). Sebuah ajaran tentang Satya (dari bahasa sanskerta yang berarti setia). Ada beberapa pembagiannya_saya lupa tepatnya_seperti setia pada pikiran, setia pada kata hati, setia pada perkataan dan setia pada perbuatan. Continue reading ‘Mempertanyakan kesetiaan’

09
Jun
09

Kaze

Dalam panasnya pertempuran, ada samurai yang tergesa-gesa layaknya sekawanan ikan, yang melesat kesana kemari, menunjukkan banyak kegiatan, tapi tidak membunuh terlalu banyak musuh. Takeda Shingen yang agung akan duduk, memegang kipas perangnya dan mengarahkan pasukannya. Dia bisa melakukan itu karena dirinya memiliki tempat duduk yang strategis; pada titik di mana seluruh pertempuran akan diputuskan. Mereka menyebutnya Sang Gunung. Dia memikirkan pertempuran itu dan tahu dimana Sang Gunung sebaiknya diletakkan. Dia tidak mencoba lokasi-lokasi berbeda seperti kutu busuk yang melompat-lompat sepanjang tikar tatami. Jika aku ingin menjadi Matsuyama, gunung cemara, seharusnya aku mengambil pelajaran dari Shingen dan memikirkan apa yang sudah kuketahui dan apa yang ingin kulihat. Setelah itu, aku baru bisa menentukan gunung di tempat di mana aku kemungkinan besar melihatnya

Kaze, karya Dale Furutani

Membaca ini kembali aku ingat pada kutipan lain yang kira-kira seperti ini: “Orang bodoh membuang kesempatan, orang pintar memanfaatkan kesempatan sedangkan orang bijak menciptakan kesempatan”. Jika seperti itu lalu banyak sekali orang “pintar” di sekitarku, yang akan selalu mengambil apapun kesempatan yang ada. Dari sudut pandang lain saya memahami mereka sebagai orang tanpa tujuan kecuali uang atau jaminan kesejahteraan hidup dan menyerahkan masa depannya sepenuhnya pada Sang Takdir. Sedangkan orang “bijak” lebih mencoba memahami apa yang dia inginkan, apa yang ingin dia perjuangkan, meyakini kodratnya dan menciptakan kesempatan untuk menyukseskan apa yang ingin diraihnya. Tidak peduli akan prospek pekerjaannya, tidak hanya mengalir bersama arus tapi memahami arus dan memanfaatkan kelebihan dan kelemahannya untuk mencapai apa yang dicita-citakannya. Orang “bijak” ini bahkan berani membuang kesempatan lain yang dirasa tidak mendukung cita-citanya atau malah mengalihkannya. Membuatnya hampir berbeda tipis dengan orang “bodoh”. Melakukan itu tentu butuh keberanian yang sangat besar. Keberanian bukan tidak mengenal takut, tapi mengenali ketakutannya, menghadapinya dan menjadi kuat bersamanya. Seperti panglima perang yang akan menyerang musuh yang menutup setiap kesempatan yang dimilikinya untuk mundur.

09
Jun
09

Mencari Tauladan

Berhubungan dengan tulisan saya sebelumnya saya mau cerita sedikit kenapa saya keberatan menolak saran-saran religius dan spiritual dari orang lain atau menolak ikut suatu kelompok atau aliran spiritual tertentu. Ini bukan karena merasa lebih pintar atau karena berpikir apa yang dinasehatkan tidak benar. Teori sudah begitu banyak di otak saya sehingga tidak akan seimbang jika akhirnya teori lagi yang saya dapat dan memang teori yang ada hanya itu-itu saja, belum ada yang menyampaikan sudut pandang baru tentang masalah yang saya hadapi. Apakah nasehat yang benar-benar dibutuhkan sekarang? Siapa yang paling memahami masalah kita adalah kita sendiri apabila memang berusaha memahaminya. Continue reading ‘Mencari Tauladan’

05
Jun
09

menjadi tauladan

Saya terkesan dengan komentar putri Gus Dur tentang bapaknya. Bahwa ketika mereka kecil mereka tidak dididik dengan larangan seperti orang tua kebanyakan. Gus Dur tidak pernah mengucapkan tidak boleh begini dan tidak boleh begitu pada anaknya. Yang dia beri tahukan hanya penjelasan tentang berbagai jalan yang tersedia dan konsekuensinya lalu Beliau memberikan kebebasan pada anaknya untuk memilih. Suatu cara yang memerlukan kepercayaan yang sangat tinggi pada anak-anak dimana perlu kekuatan untuk menerima apa pun yang menjadi pilihan anak-anak, menerima mereka bagaimanapun jadinya mereka nanti dengan tidak menghakimi menggunakan berbagai nilai-nilai moral.

Selain itu dia juga sedikit sekali menasehati anak-anaknya dengan kata-kata karena nasehatnya tercermin dari sikap hidup dan perbuatannya. Seperti kata Gandhi: “My Life is My Message” mungkin begitulah cara terbaik untuk mengajarkan berbagai hal pada orang lain. Saya ingat sebuah cerita ketika Gandhi diminta menasehati seorang anak oleh ibunya si anak. Gandhi meminta waktu untuk itu hingga seminggu kemudian dia melakukan apa yang diminta sang ibu. Ibu itu heran dan bertanya kepada Gandhi tentang apa yang telah dilakukannya selama seminggu itu. Gandhi menjawab kalau sebelum menasehati seorang anak dia mesti melakukan dulu apa yang akan dikatakannya. Memberi contoh bukan perkataan. Continue reading ‘menjadi tauladan’

27
Feb
09

~.~

 

Jika sekarang aku ingin kasih sayang dari seseorang mungkin karena aku iri dengan orang lain yang terlihat bahagia dengan pasangannya masing-masing atau karena aku iri dengan diriku dulu yang memiliki seorang wanita yang menganggap diriku spesial. Jika sekarang aku mencari kebahagiaan dari pelukan seorang wanita mungkin karena dalam diriku sendiri aku tidak bahagia. Aku pernah berusaha keras untuk memenangkan cinta seseorang tapi ketika cinta itu datang aku menghindar, aku takut, aku minder merasa aku tidak pantas untuk itu, tidak pantas untuk bahagia walaupun tidak ingin dipungkiri aku menginginkannya. Hal yang pantas untukku hanya derita, kesepian, penolakan. Saat aku berdiri di merajan rumah dan berpikir lagi hingga aku sadar. Kebahagiaan itu tidak ada di luar. Ia ada di dalam diriku, hanya diriku yang bisa membuat aku merasa bahagia. Kebahagiaan yang ada di luar itu semu, dia datang dan segera akan berakhir. Berganti menjadi kesepian yang sangat. Aku putuskan untuk membuat diriku bahagia dulu, agar aku nyaman dengan diriku dan segala kekuranganku. Continue reading ‘~.~’

14
Dec
08

Kembali ke fisika

milky_way-as-seen-in-a-dark-location-c-dickAku belajar profesionalitas dari seorang pegawai yang hanya digaji 500 ribu sebulan, tentang bagaimana dia ingin ikut pelatihan agar dapat bekerja dengan lebih cekatan dan lebih baik. Lalu kenapa tidak aku mengerjakan soal-soal fisika untuk melatih diri mengerjakan dengan lebih cekatan. Memahami permasalahan yang diberikan dengan lebih cepat dan tepat. Mencari metode yang lebih baik dalam mengerjakannya. Entah aku akan menjadi seorang fisikawan atau menjadi seorang bisnisman bahkan gelandangan, mengerjakan soal-soal fisika dapat melatih kemampuan analisisku, kejelian membaca masalah dan memahami sistem, dan daya tahan bila menghadapi kebuntuan. Pada akhirnya menjadi apapun dengan label apapun pikiranku jadi lebih siap menghadapi setiap masalah. Continue reading ‘Kembali ke fisika’

26
Nov
08

calon orang miskin

Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau buatku. Bukan iri pada mereka yang bergelimang harta dan bisa membeli segalanya justru orang-orang yang setiap hari harus berjuang demi sepiring nasi dan garam. Walaupun miskin tapi ada sesuatu untuk diperjuangkan, entah mereka merasa bosan juga mungkin tidak sempat untuk berpikir tentang kejenuhan. Aku yang memiliki akses pendidikan yang tinggi dan hidup berkecukupan malah diliputi kebingungan tentang rencana dan mimipi-mimpi. Dalam posisi seperti ini ada tanggung jawab besar yang harus dipegang sehingga harus berpikir dalam dalam menggunakan apa yang aku miliki. Kebuntuan adalah sahabat yang rajin menjenguk membawakanku oleh-oleh kegilaan. Mungkin kelemahan mentalku yang menyebabkan aku iri sama mereka. Jika aku jadi mereka lalu aku akan iri juga dengan diriku yang sekarang. Masing-masing punya kehidupan dan tidak saling mengerti rasa satu dengan yang lain. Continue reading ‘calon orang miskin’

23
Oct
08

Bohong dan Kasih

“If everyone love and nobody lie” itu sepenggal lirik lagu If Everyone Cared dari Nickelback.

Jadi ingat suatu ketika seseorang yang baru saja dekat dengan saya berbohong kepada orang tuanya. Apesnya saya menjadi kambing hitam yang mengajarkannya berbohong. Eits, bukannya baru saja kami dekat? Koq bisa dalam waktu sesaat dia belajar berbohong dari saya sementara saya waktu itu belum sempat berbohong darinya? Waktu itu awal kami jadian dan entah kebohongan apa yang dia sampaikan kepada orang tuanya. Saya malah bilang kepada dia untuk jujur kepada orang tuanya walaupun saya juga berbohong kepada orang tua saya tentang hal ini. Lah kenapa koq bohong? Continue reading ‘Bohong dan Kasih’